SSCS Dampingi Anak Jalanan Surabaya
- 01 Feb 2026 10:46 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Berawal dari tagar #SaveStreetChild yang ramai di media sosial, komunitas Save Street Child Surabaya (SSCS) lahir sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak jalanan dan kelompok termarjinalkan di Kota Surabaya. Komunitas ini hingga kini konsisten mendampingi anak-anak agar memperoleh haknya sebagai anak, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun pengembangan karakter.
General Coordinator SSCS, Advin Mariyono mengatakan komunitas tersebut resmi terbentuk pada 5 Juni 2011, bermula dari keprihatinan sejumlah anak muda yang kemudian bersepakat bergerak langsung ke lapangan. “Nama Save Street Child itu kami ambil dari tagar #SaveStreetChild yang waktu itu kami gunakan di media sosial. Dari sana muncul kesadaran bersama untuk tidak hanya peduli, tapi juga bertindak langsung mendampingi anak-anak di jalanan,” ujar Advin saat Dialog Aspirasi dengan tema Anak Merdeka di Pro 1 RRI Surabaya, Sabtu, 31 Januari 2026.
Ia menjelaskan, sejak berdiri hingga saat ini, SSCS telah melalui berbagai pasang surut dalam menjalankan pendampingan. Namun demikian, semangat relawan tetap terjaga. Saat ini SSCS didukung sekitar 60 relawan yang mayoritas mahasiswa, serta membina kurang lebih 160 anak yang tersebar di lima titik di Kota Surabaya.
“Dalam perjalanannya tentu ada pasang surut, tapi teman-teman relawan tetap konsisten mendampingi anak-anak. Sekarang kami didukung sekitar 60 relawan dan membina kurang lebih 160 anak di beberapa titik di Surabaya,” kata Advin.
Selain pendampingan pendidikan, SSCS juga menekankan pentingnya pendidikan karakter kepada anak-anak binaannya. Menurut Advin, meskipun anak-anak tersebut hidup dalam keterbatasan ekonomi, mereka tetap dibekali nilai kemandirian dan mental untuk tidak bergantung pada belas kasihan orang lain.
“Kami selalu menanamkan mindset bahwa meski hidup dalam kekurangan, anak-anak tidak dibiasakan untuk meminta-minta. Yang kami ajarkan adalah bagaimana mereka bisa berproses dan mandiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan yang dilakukan SSCS bukan sekadar memberi bantuan sesaat, melainkan membekali anak-anak dengan kemampuan hidup. “Prinsip kami lebih baik memberikan kain, kail, dan umpan, bukan hanya umpan semata, agar anak-anak punya bekal untuk masa depannya,” kata Advin.
Menurut Advin, media sosial hingga kini masih menjadi sarana penting bagi SSCS untuk mengajak generasi muda menumbuhkan empati dan kepedulian sosial terhadap anak-anak jalanan dan termarjinalkan. “Media sosial kami gunakan bukan hanya untuk dokumentasi kegiatan, tetapi juga untuk memotivasi generasi muda agar punya empati dan mau terlibat membantu anak-anak jalanan,” katanya.
Terkait pendanaan, Advin menjelaskan bahwa SSCS dijalankan secara mandiri sebagai komunitas sosial, meskipun tetap terbuka terhadap dukungan dari berbagai pihak. “Karena kami komunitas, pendanaan bersifat swadaya. Namun kami tidak menutup kemungkinan jika ada donatur yang ingin mendukung kegiatan pendampingan anak-anak,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Advin mengapresiasi Pemerintah Kota Surabaya yang dinilainya memiliki komitmen kuat dalam pemenuhan hak anak. Ia menilai berbagai program yang dijalankan pemerintah daerah telah membantu memastikan hak pendidikan anak terpenuhi, seiring penetapan Surabaya sebagai Kota Layak Anak.
“Untuk pendidikan formal, anak-anak di Surabaya sudah mulai terpenuhi karena perhatian pemerintah kota cukup besar. Kami sangat mengapresiasi hal tersebut,” ucap Advin.
Ia menambahkan, sejak 2011 hingga kini, sudah ada anak binaan SSCS yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. “Ini membuktikan bahwa anak-anak jalanan dan termarjinalkan punya potensi besar jika didampingi dengan tepat. Mereka adalah tanggung jawab kita bersama sebagai generasi penerus menuju Indonesia Emas 2045,” ucap Advin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....