Ekosistem Film Sekolah Digarap, SMKN 12 Surabaya Disorot
- 01 Feb 2026 00:07 WIB
- Surabaya
Narasumber Chrisna A. Purnama, Pengajar Film dan Teater SMK Negeri 12 Surabaya, menegaskan bahwa keberhasilan film tidak selalu diukur dari sisi komersial. “Yang sukses itu adalah film yang punya dampak di masyarakat. Mau banyak yang nonton atau laris itu soal lain,” ujarnya.
Chrisna mencontohkan film populer yang berhasil secara pasar sekaligus memberi dampak sosial dan ekonomi. “Ada film yang laris, punya dampak di masyarakat, ekonomi kreatif jalan, wisata juga hidup.” katanya, merujuk pada fenomena film yang memicu paket wisata seperti Ada Apa Dengan Cinta.
Dalam konteks pendidikan, Chrisna menjelaskan bahwa jurusan film di SMK Negeri 12 Surabaya telah membangun sistem pembelajaran yang holistik. “Siswa datang ke sekolah bukan hanya belajar kamera, skenario, atau editing, tapi belajar juga untuk menceritakan kehidupan masyarakatnya lewat film,” tuturnya.
| Baca juga: Kominfo Jatim Perkuat Program Perisai Anak |
Menurutnya, film diajarkan bukan semata sebagai produk, melainkan proses kreatif. Selain aspek teknis, siswa dilatih membangun kepekaan sosial. “Kami merangsang kegelisahan agar kepekaan rasa terhadap lingkungan sosial itu tumbuh, supaya mereka tidak jadi generasi yang tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya,” jelas Chrisna.
Setelah mampu bercerita, siswa juga diarahkan untuk memikirkan bagaimana karya mereka sampai ke masyarakat. “Sekarang bagaimana caramu menyampaikan cerita itu ke publik supaya suara kamu didengar dan mungkin bisa membawa perubahan,” ucapnya. Proses tersebut dilakukan melalui pemutaran dan keikutsertaan di berbagai festival film.
Chrisna menambahkan, setiap film tugas akhir siswa SMK Negeri 12 Surabaya melewati proses pemutaran perdana dan regulasi resmi. “Film-film siswa kami kirim ke Lembaga Sensor Film, menunggu surat lulus sensor, lalu itu menjadi tiket untuk pemutaran di bioskop,” katanya.
Dari proses itu, siswa juga belajar pemasaran karya. “Menciptakan karya seni dan menjual produk seni itu dua disiplin ilmu yang berbeda, dan di jurusan film kami ajarkan dua-duanya,” ujarnya. Ia menilai pengalaman menjual tiket dan mempromosikan film menjadi pembelajaran berharga.
Prestasi siswa pun tidak sedikit, baik di tingkat regional maupun nasional. Chrisna menyebut jurusan film SMK Negeri 12 Surabaya beberapa kali meraih emas di Festival Film Pelajar Nasional. Salah satu film dokumenter berjudul Rupiah dari Besi Tua bahkan meraih juara pertama di festival tingkat nasional. “Kekuatan film itu ada pada orisinalitas cerita dan isu masyarakat yang unik,” ungkapnya.
Lebih jauh, Chrisna menekankan bahwa prestasi film dapat menjadi modal masa depan siswa. “Sertifikat festival itu dipakai sebagai portofolio untuk masuk perguruan tinggi negeri, bahkan ada yang langsung dapat beasiswa penuh,” katanya. Ia menegaskan, pendidikan film di sekolah adalah investasi jangka panjang bagi masa depan generasi muda dan ekosistem perfilman Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....