Masalah Psikologi, Aksi Ngebut dan Knalpot Broom

  • 27 Jan 2026 16:49 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Aksi kebut-kebutan di jalan raya serta penggunaan knalpot berisik yang kerap terdengar dengan suara “broom” sering kali menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan kecemasan, bagi pengguna jalan lainnya. Fenomena tersebut belakangan menjadi sorotan publik karena tidak hanya berkaitan dengan keselamatan lalu lintas, tetapi juga dinilai memiliki aspek psikologis yang patut diperhatikan.

Psikolog klinis asal Surabaya, Wenika, menilai perilaku tersebut tidak muncul tanpa sebab. Saat diwawancarai Pro 1 melalui sambungan telepon pada Selasa, 27 Januari 2026, ia menjelaskan bahwa aksi ngebut sembarangan dan penggunaan knalpot berisik kerap berkaitan dengan kondisi psikologis tertentu pada pelakunya. 

“Perilaku pengendara motor dengan knalpot berisik dan ngebut sembarangan sering dikaitkan dengan gangguan psikologis seperti sensation seeking, attention-seeking behavior, dan ciri-ciri narsistik ringan,” ujarnya.

Menurut Wenika, selain dorongan mencari sensasi dan perhatian, perilaku tersebut juga dapat menjadi bentuk kompensasi terhadap rasa minder. Ia menyebut, sebagian pelaku berupaya menutupi kurangnya kepercayaan diri melalui tindakan yang mencolok di ruang publik. 

“Perilaku ini juga bisa menjadi kompensasi rasa minder, di mana pelaku berusaha menutupi rasa kurang percaya diri. Orang yang melakukan ini seringkali membutuhkan validasi eksternal karena merasa kosong di dalam dirinya,” katanya.

Dari sudut pandang psikologi, sensation seeking merupakan dorongan untuk mencari pengalaman yang memicu adrenalin dan rangsangan tinggi. Dalam konteks berkendara, hal ini dapat diwujudkan melalui kecepatan tinggi atau suara kendaraan yang mencolok. Sementara itu, attention-seeking behavior membuat seseorang terdorong untuk menjadi pusat perhatian, termasuk di jalan raya yang ramai.

Wenika juga menyinggung adanya kemungkinan ciri narsisme ringan pada sebagian pelaku. Ia menilai, keinginan untuk selalu diperhatikan bisa muncul dari keyakinan bahwa dirinya layak menjadi pusat perhatian. “Belum lagi, terkadang hal ini juga dapat termasuk dalam ciri-ciri narsisme ringan—di mana pelakunya merasa pantas mendapatkan perhatian melalui cara apa pun,” ucapnya.

Lebih lanjut, Wenika menegaskan bahwa perilaku yang sering dianggap sebagai gaya atau bentuk kepercayaan diri justru dapat menunjukkan sebaliknya. “Orang yang benar-benar percaya diri tidak perlu berteriak atau bergaya. Jika seseorang suka mengendarai motor dengan cepat agar diperhatikan semua orang, sebenarnya hal tersebut tidaklah menunjukkan kesan keren, melainkan menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan validasi dari luar karena kurangnya pembenaran diri dari dalam,” ucapnya.

Meski demikian, Wenika mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta menggeneralisasi semua pengendara yang ngebut atau menggunakan knalpot berisik. Ia menekankan bahwa tidak semua perilaku tersebut berkaitan dengan gangguan psikologis. “Banyak di antaranya masih berada dalam rentang kepribadian normal, hanya saja mereka salah memilih cara untuk mengekspresikan diri. Atau bisa juga mereka sedang dalam kondisi darurat yang mengharuskan mereka untuk berkendara dengan cepat,” katanya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....