Komunitas Sahabat CP Perjuangkan Hak Anak

  • 13 Sep 2025 17:31 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Kehidupan anak penyandang Cerebral Palsy (CP) kerap dipenuhi keterbatasan dalam bergerak, berbicara, maupun berinteraksi sosial. Mereka membutuhkan perhatian lebih agar dapat tumbuh dan berkembang layaknya anak lain.

Hal ini disampaikan Koordinator Sahabat Cerebral Palsy, Ina Sudaryati, dalam dialog interaktif bersama Komunitas, di Pro 1, RRI Surabaya, Sabtu (13/9/2025), yang menekankan pentingnya pemenuhan hak dasar anak-anak CP mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga penerimaan sosial. “Setiap anak CP punya hak yang sama untuk belajar, bermain, dan didengar. Jangan biarkan keterbatasan fisik mereka menghalangi masa depannya,” ujarnya.

Ina menuturkan, masih banyak anak CP yang kesulitan mengikuti kegiatan sekolah karena fasilitas belum ramah disabilitas. Beberapa bahkan harus keluar dari sekolah reguler lantaran tidak adanya pendamping khusus.

“Ada anak yang selalu duduk di sudut kelas karena tidak mampu mengikuti aktivitas fisik. Ia pernah berkata, ‘Bu, saya ingin ikut, tapi badan saya tidak bisa’. Itu menggambarkan betapa mereka ingin diakui, bukan dipisahkan,” ucapnya.

Selain pendidikan, akses terhadap layanan kesehatan dan terapi rehabilitasi juga menjadi kendala besar. Banyak keluarga anak CP di Malang dan sekitarnya harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan terapi wicara atau fisioterapi.

“Kalau hanya mengandalkan klinik swasta, biayanya sangat tinggi. Orang tua sering harus menabung berbulan-bulan agar anaknya tetap bisa terapi,” kata Ina.

Ia menambahkan, tanpa dukungan rutin, perkembangan anak CP bisa terhambat secara signifikan. Sebagai upaya lain, komunitas Sahabat Cerebral Palsy juga memberikan pembelajaran keterampilan kepada para orang tua, seperti membatik dan usaha kerajinan tangan, agar mereka memiliki modal usaha untuk menambah ekonomi keluarga. Hasil tambahan itu diharapkan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya perawatan anak.

Namun, menurut Ina, usaha ini masih menghadapi kendala besar di sisi permodalan. “Banyak ibu yang sudah terampil membatik, tapi tidak bisa mengembangkan karena tidak ada modal. Padahal jika usaha ini jalan, mereka bisa lebih mandiri sekaligus membiayai terapi anak,” ujarnya.

Tak hanya itu, stigma masyarakat juga masih menjadi beban berat bagi anak CP. Mereka kerap dipandang sebelah mata, tidak dilibatkan dalam aktivitas sosial, atau dianggap tidak mampu mengungkapkan keinginannya. “Padahal mereka punya potensi besar. Kita hanya perlu sabar mendengar, memberi ruang, dan memberi kesempatan. Anak CP berhak tampil di ruang publik, bukan hanya diam di rumah,” kata Ina.

Komunitas Sahabat Cerebral Palsy sendiri baru terbentuk pada Februari 2025 di Malang. Pembentukannya diinisiasi oleh para orang tua dan relawan yang resah melihat minimnya dukungan bagi anak CP. Ina dipercaya sebagai koordinator untuk menggerakkan berbagai program komunitas, mulai dari kelas pendampingan keluarga, advokasi pendidikan inklusif, hingga penyuluhan ke masyarakat.

“Kami ingin memastikan anak CP tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan mendapat haknya sebagai bagian penuh dari masyarakat,” ucap Ina.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....