Pasca Lebaran Surabaya Masih Jadi Jujukan Urbanisasi
- 08 Apr 2025 12:29 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Usai momen Lebaran 2025, Kota Surabaya kembali menjadi magnet urbanisasi dari berbagai wilayah di Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, arus masuk pendatang ke ibu kota Jawa Timur ini meningkat signifikan, terutama dari daerah-daerah sekitar seperti Madura, Lamongan, Gresik, dan Probolinggo.
Menurut Ali Imron, Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan ibukota Jawa Timur, Kota Surabaya memiliki magnet atau daya tarik utamanya dalam hal aksesibilitas lapangan pekerjaan yang dinilai cukup banyak untuk menjawab kebutuhan warga non Surabaya. Meski realitanya beragam bidangnya namun kompetisinya pun cukup tinggi.
Hal ini lah yang kemudian menjadi daya tarik warga luar Surabaya untuk mengadu nasib di kota Pahlawan meski persaingannya juga cukup ketat. "Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan juga ibu kota Jawa Timur dengan dinamikanya, masih menjadi daya tarik yang kuat bagi warga non Surabaya untuk masuk karena dinilai dari segi aksesibilitas dalam hal pekerjaan itu beragam meskipun sebenarnya kompetisinya besar tapi karena peluangnya banyak maka banyak juga yang berbondong - bondong datang ke kota Pahlawan ini meski tidak memiliki kompetensi," ucapnya, saat menjadi narasumber dialog pagi Pro1 RRI Surabaya Selasa (8/4/2025).
Selain itu kata Ali Imron, jaringan sosial juga menjadi penyebab banyaknya warga luar kota Surabaya ingin meningkatkan taraf hidupnya. Belum lagi kesuksesan pemerintah kota Surabaya dalam menjalankan program jaminan sosial bagi warganya dinilai juga cukup baik sehingga banyak masyarakat yang ingin merasakan hal tersebut.
"Kalau diliahat peluang banyak tapi ga cuma itu lho yang jadi magnet, keberadaan jaringan sosial seperti misalnya kelurga yang tinggal di Surabaya cerita soal gimana kota ini trus mereka juga punya jaringan itu juga jadi daya tarik ditawari dan lainnya apalagi program jaminan sosial di surabaya ini kan banyak dan boleh dibilang sukses makanya banyakk juga yang ingin merasakan jadi banyak juga faktor kenapa Surabaya jadi jujukan masyarakat yang melakukan urbanisai atau migrasi ini," katanya.
Oleh karena itu Pemerintah Kota dalam hal ini Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, kata Ali Imron, pihaknya harus menyiapkan langkah-langkah antisipatif dan solutif untuk mengatasi pendatang. Data dari Dispendukcapil Surabaya menunjukkan bahwa selama triwulan pertama tahun 2024, terjadi lonjakan jumlah penduduk sebanyak 21.423 jiwa. Total populasi Surabaya kini mencapai 3.009.286 jiwa hingga Maret 2024.
Kecamatan Kenjeran dan Tambaksari menjadi wilayah dengan jumlah pendatang tertinggi, masing-masing 2.230 dan 1.684 jiwa. Langkah pengawasan melibatkan RT/RW, lurah, camat, hingga pemilik rumah kos. Pendatang yang tinggal di kos diwajibkan melapor dan akan didata sebagai penduduk musiman. Pemkot juga memperketat penerbitan KTP sementara untuk memastikan pendatang memiliki identitas dan tujuan yang sah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....