Bambang Haryo Dukung Kawasan Ekonomi Khusus Tahu Tempe Sidoarjo

  • 28 Mar 2025 17:17 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Sidoarjo: Anggota DPR RI Komisi VII, Ir. H Bambang Haryo Soekartono (BHS), mendorong kawasan industri tahu dan tempe di Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Sidoarjo, menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK). Bambang juga bertekad mengawal harga kedelai agar terjangkau bagi pelaku usaha industri rumahan di sana.

Bambang Haryo menegaskan pentingnya pengembangan kawasan industri tahu dan tempe di Sidoarjo dalam kunjungan kerjanya di Kecamatan Taman pada Jumat (28/3/2025). Menurutnya, kawasan ini berpotensi menjadi sentra industri yang dapat memajukan ekonomi lokal.

“Kami berharap kawasan ini bisa menjadi kawasan ekonomi khusus. Jika sektor ini didorong, pajak penghasilannya bisa lebih rendah, membantu para pelaku usaha,” ujarnya.

Kawasan industri tahu dan tempe di Taman, Sidoarjo, memang dikenal memiliki potensi besar. Setiap hari, ribuan produk tahu dan tempe dihasilkan oleh pelaku usaha di sana. Bambang melihat kawasan tersebut layak mendapat perhatian lebih dari pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.

Bambang juga mengungkapkan bahwa harga kedelai yang terus meningkat menjadi masalah bagi pelaku industri tahu dan tempe. Saat ini, harga kedelai sudah mencapai Rp8.900 per kilogram, yang menurutnya menghambat perkembangan industri tersebut.

“Kami harap harga kedelai stabil di kisaran Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram. Pemerintah bisa mencari pemasok kedelai yang lebih murah, misalnya dari India atau Cina,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Bambang menegaskan bahwa Indonesia pernah menjadi penghasil kedelai yang signifikan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Program tanam kedelai serentak yang mencapai 2 juta ton per tahun, menurutnya, perlu dihidupkan kembali.

“Kalau ini tercapai, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor kedelai yang saat ini mencapai 2,27 juta ton per tahun,” ujarnya.

Untuk mewujudkan swasembada kedelai, Bambang meminta pemerintah daerah Jawa Timur untuk lebih menggencarkan produksi kedelai lokal. Produksi kedelai di Jawa Timur saat ini baru mencapai 337 ribu ton, yang masih jauh dari kebutuhan dalam negeri.

Selain itu, Bambang juga mengusulkan agar produk tahu dan tempe dari Sidoarjo memiliki merek sendiri yang bisa dikenal luas di luar daerah. Hal ini akan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.

Bakri, seorang pengrajin tempe di Sidoarjo, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi para pengusaha kecil. Menurutnya, meskipun masih ada keuntungan, namun margin keuntungan semakin tipis karena harga kedelai yang tinggi.

“Keuntungan kami memang masih ada, tetapi sangat sedikit, sekitar 15-20%. Jika harga kedelai bisa turun ke Rp8.000 per kilogram, kami berharap bisa menyisihkan sedikit keuntungan untuk keluarga,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....