Hal Penting Puasa Ramadan yang Jarang Dipahami Masyarakat
- 11 Mar 2026 07:15 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bulan Ramadan menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Namun di balik pelaksanaan puasa yang dilakukan setiap tahun, masih terdapat sejumlah hal penting yang belum banyak dipahami oleh masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Hefzi, Mudir Pesantren Persis Bangil.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak umat Muslim untuk lebih memahami makna dan ketentuan puasa Ramadan secara lebih mendalam. Menurut Ustaz Hefzi, selama bulan Ramadan umat Islam sering mendengarkan berbagai kajian tentang syariat puasa, namun pemahaman yang lebih dalam tetap diperlukan agar ibadah yang dilakukan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan.
“Dalam Ramadan sering kita mendengarkan ilmu dari kajian-kajian Islami tentang syariat puasa. Namun tentu kita perlu mengetahui lebih dalam terkait ibadah puasa yang hanya datang setahun sekali ini,” ujar Ustaz Hefzi dalam tausiyahnya di Program Mutiara Pagi Pro 1 RRi Surabaya, Rabu, 11 Maret 2026.
Ia menjelaskan, hal pertama yang perlu dipahami dalam menjalankan puasa Ramadan adalah niat yang dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Hal ini berbeda dengan puasa sunnah yang masih diperbolehkan berniat pada pagi hari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Selain niat, Ustad Hefzi juga menekankan pentingnya sahur yang tidak sekadar dimaknai sebagai makan sebelum berpuasa, tetapi juga memiliki nilai keberkahan dan anjuran untuk memperbanyak istighfar.
Rasulullah SAW bersabda, “Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa waktu sahur merupakan waktu yang dianjurkan untuk memohon ampun kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 18, “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun kepada Allah.” Hal serupa juga disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 17 tentang orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur.
Ustaz Hefzi menambahkan bahwa salah satu hal yang membedakan puasa dalam Islam dengan praktik puasa pada agama lain adalah anjuran sahur yang mengandung keberkahan dan nilai ibadah.
Selain itu, ia menjelaskan perbedaan antara puasa sunnah dan puasa Ramadan. Puasa sunnah masih diperbolehkan dibatalkan apabila terdapat keperluan tertentu, seperti memenuhi undangan makan. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi puasa Ramadhan yang bersifat wajib.
Ia juga menyinggung istilah takjil yang sering dipahami masyarakat Indonesia sebagai makanan berbuka. Menurutnya, dalam makna sebenarnya, takjil berarti menyegerakan berbuka puasa.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
| Baca juga: Damar Tengger Tebar Berkah Ramadan |
Lebih lanjut, Ustaz Hefzi menjelaskan bahwa puasa memiliki kedudukan istimewa dibandingkan ibadah lainnya. Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa seluruh amal manusia pada dasarnya kembali kepada dirinya sendiri, namun puasa memiliki keutamaan khusus di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi, “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ia menambahkan bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan saat bertemu dengan Allah SWT kelak.
“Puasa juga dimaksudkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, karena dengan merasakan lapar dan dahaga kita dapat lebih memahami kondisi orang lain yang kekurangan,” tuturnya.
Melalui pemahaman yang lebih baik terhadap makna dan ketentuan puasa Ramadhan, diharapkan umat Islam dapat menjalankan ibadah tersebut tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga mampu meningkatkan ketakwaan dan kepedulian sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....