Ramadhan Sebagai Madrasah Keikhlasan.
- 07 Mar 2026 23:09 WIB
- Surabaya
RRI. CO. ID, Surabaya - Bulan Ramadhan dimaknai sebagai momentum pembinaan spiritual yang mengajarkan kesabaran dan keikhlasan dalam beribadah. Hal tersebut disampaikan oleh Nyai Dra. Hj. Faridah Muwafiq, Koordinator Kader dan Tabligh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, dalam dialog “Cahaya Ramadhan” di RRI Pro 4 Surabaya dengan tema “Ramadhan Sebagai Madrasah Keikhlasan.”
Dalam pemaparannya, Faridah Muwafiq menjelaskan bahwa ibadah puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi madrasah ruhani untuk melatih dua amalan hati yang sangat penting, yaitu sabar dan ikhlas. Kedua nilai tersebut menjadi kunci diterimanya amal ibadah sekaligus meningkatkan derajat seorang hamba di sisi Allah SWT. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan bahwa kewajiban puasa telah ditetapkan bagi orang-orang beriman sebagaimana juga diwajibkan kepada umat terdahulu, agar manusia mencapai derajat ketakwaan.
Faridah menuturkan bahwa implementasi sabar dalam bulan Ramadhan dapat diwujudkan melalui beberapa hal. Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dengan melaksanakan puasa sebagai perintah langsung dari-Nya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 yang menegaskan bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Kedua, sabar dalam menahan diri dari perbuatan maksiat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa merupakan benteng bagi seorang muslim. Karena itu, orang yang berpuasa hendaknya menjaga ucapan dan perilakunya dari hal-hal yang tidak baik serta mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi provokasi atau perselisihan.
Ketiga, sabar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Menurut Faridah, setiap manusia pasti akan menghadapi ujian, baik yang berat maupun ringan. Melalui latihan spiritual selama Ramadhan, seseorang diharapkan mampu menghadapi ujian tersebut dengan hati yang lebih kuat dan tenang.
Selain sabar, nilai keikhlasan juga menjadi inti dari ibadah puasa. Ikhlas berarti memurnikan niat hanya untuk Allah SWT tanpa mengharapkan pujian atau kepentingan duniawi. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Bayyinah ayat 5 yang menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.Ia juga mengutip hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Ibadah puasa memiliki keistimewaan karena hanya Allah SWT yang mengetahui dan memberikan balasannya secara langsung.
Menurut Faridah, keistimewaan tersebut menunjukkan bahwa puasa merupakan ibadah yang sangat erat kaitannya dengan keikhlasan, karena dilakukan secara tersembunyi dan hanya diketahui sepenuhnya oleh Allah SWT.
Di akhir penyampaiannya, Faridah mengajak umat Islam untuk mewujudkan nilai sabar dan ikhlas dalam kehidupan sehari-hari selama Ramadhan, di antaranya dengan menjaga niat yang tulus untuk meraih ridha Allah SWT, mengendalikan emosi agar tidak merugikan diri sendiri, tetap istiqamah dalam keshalihan meski menghadapi berbagai rintangan, serta memperbanyak ibadah dengan penuh kesadaran dan ketulusan.
Dialog ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi umat Islam bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi merupakan kesempatan untuk memperbaiki kualitas iman, memperdalam keikhlasan, serta memperkuat kesabaran dalam menjalani kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....