Menjaga Api Ibadah: Ustaz Heri Bagikan Kiat Istiqomah di Pertengahan

  • 02 Mar 2026 19:54 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Memasuki fase pertengahan bulan suci Ramadhan, konsistensi atau istiqomah dalam beribadah menjadi tantangan tersendiri bagi umat Muslim. Fenomena menurunnya jumlah jamaah di masjid atau yang sering disebut dengan "shaf yang mulai maju" menjadi sorotan dalam program "Berkah Ramadhan" Pro 1 Surabaya, Minggu 1 Maret 2026 yang menghadirkan narasumber Ust. Dr. Heri Rifhan Halili, M.Pd.I.

Dalam tausiahnya, Ustaz Heri menekankan bahwa istiqomah bukan sekadar tentang melakukan ibadah dalam jumlah besar di awal, melainkan menjaga kualitas dan keteguhan hati secara berkelanjutan. Menurut beliau, Allah SWT sangat mencintai amalan yang dilakukan secara konsisten meskipun dalam skala kecil.

“Tantangan nyata di pertengahan bulan adalah Ramadhan fatigue atau kejenuhan. Di sinilah kualitas iman kita diuji, apakah kita bisa bertahan hingga akhir atau justru kendor di tengah jalan,” ujar Ustaz Heri.

Strategi Melawan Kejenuhan Untuk menjaga semangat tersebut, Ustaz Heri membagikan beberapa tips praktis. Pertama, umat Muslim perlu melakukan manajemen niat dan skala prioritas yang baik. Keseimbangan antara tanggung jawab profesional di dunia kerja dengan pengabdian spiritual harus diatur sedemikian rupa agar tidak saling mengabaikan.

Kedua, pentingnya dukungan lingkungan sosial. Berada di tengah komunitas atau lingkaran pertemanan yang memiliki visi ibadah yang sama akan mempermudah seseorang untuk tetap termotivasi saat rasa lelah melanda.

Doa sebagai Kunci Keteguhan Lebih lanjut, Ustaz Heri mengingatkan bahwa istiqomah pada dasarnya adalah hidayah dari Allah SWT. Oleh karena itu, beliau mengimbau para pendengar untuk tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri semata, tetapi selalu memohon kekuatan melalui doa.

“Mintalah keteguhan hati kepada Sang Pemilik Hati. Doa adalah senjata utama agar kita tidak hanya sekadar 'semangat di awal', tetapi mampu meraih husnul khotimah di akhir Ramadhan nanti,” tambahnya.

Tausiah ini ditutup dengan pengingat bahwa kesuksesan Ramadhan yang sesungguhnya bukan dilihat dari kemeriahan di hari pertama, melainkan pada perubahan perilaku dan konsistensi ibadah yang menetap bahkan setelah bulan suci berlalu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....