Pentingnya Menjaga Lisan
- 23 Feb 2026 07:51 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata yang diucapkan tanpa pertimbangan, sering memicu kesalahpahaman, pertengkaran, hingga perpecahan hubungan sosial. Sementara di ruang digital, persoalan ini bahkan berkembang lebih luas. Komentar bernada emosi, ujaran kebencian, dan informasi yang disampaikan tanpa empati kerap menyulut konflik berkepanjangan dan meninggalkan dampak psikologis bagi banyak pihak.
Dalam program Mutiara Pagi dengan tema “Pentingnya Menjaga Lisan”, Senin, 23 Februari 2026, Hj. Haniah, Pimpinan Pesantren dan Panti Asuhan Mitra Arafah Surabaya, menjelaskan fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan lisan tidak lagi sekadar masalah etika pribadi, melainkan telah menjadi problem sosial.
“Sering kali kita meremehkan lisan, padahal dari lisan inilah banyak masalah bermula. Satu kata yang tidak dijaga bisa merusak hubungan, memicu permusuhan, bahkan menimbulkan penyesalan berkepanjangan,” ujarnya.
Ustadzah Haniah menegaskan bahwa persoalan lisan merupakan cerminan dari kondisi batin dan akhlak seseorang. Ia menilai, banyak konflik yang bermula dari ucapan sederhana namun disampaikan tanpa kontrol emosi dan kebijaksanaan.
“Ketidakmampuan menahan ucapan, baik secara langsung maupun melalui media sosial, dinilai turut memperlemah nilai saling menghormati dan mengikis keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat,“ katanya.
Ia menjelaskan bahwa Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas terkait etika berbicara. Dalam Surah Al-Ahzab ayat 70, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Ayat tersebut, menurutnya, menjadi landasan penting agar setiap ucapan tidak hanya benar secara fakta, tetapi juga baik dari sisi niat dan dampaknya.
Selain itu, dijelaskan Ustadzah Haniah, Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya tentang bahaya lisan melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Ia menjelaskan bahwa hadis ini menegaskan bahwa diam dalam situasi tertentu justru lebih bernilai daripada berbicara tanpa manfaat.
Hj. Haniah menambahkan, di era digital saat ini, tantangan menjaga lisan semakin berat karena setiap ucapan dapat dengan mudah direkam, dibagikan, dan disalahartikan. Oleh sebab itu, kemampuan mengendalikan diri dalam berbicara dinilai sebagai bentuk kedewasaan dan tanggung jawab sosial.
“Menjaga lisan bukan berarti membungkam kebenaran, tetapi menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun dan penuh pertimbangan,” ujarnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....