Mahmud: Bulan Ramadan Bukan Sekadar Penurunan Berat Badan

  • 20 Feb 2026 10:14 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Intermittent fasting menjadi tren penurunan berat badan dan perbaikan metabolik, terutama saat umat Muslim menjalankan puasa Ramadan. Wakil Dekan III FKM Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, menjelaskan perbedaan mengatur waktu makan, saat menjalankan puasa maupun tidak,

Menurut Mahmud, mengatur waktu makan, untuk keduanya berbeda tujuan dan penerapan gizi. “Puasa Ramadan fokus utamanya adalah ibadah, sementara intermittent fasting umumnya bertujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau metabolisme," ujarnya. "Keduanya menerapkan konsep pengaturan jendela makan."

Di Indonesia, Ramadan berlangsung sekitar 13–14 jam tanpa makan dan minum. “Metode populer intermittent fasting adalah 16:8, yakni 16 jam puasa dan delapan jam makan. Pada Ramadan, tidak boleh ada asupan, sedangkan intermittent fasting masih memperbolehkan minuman nonkalori," ujarnya.

Dari sudut ilmu gizi, ia menekankan konsumsi makanan beragam dan seimbang. “Puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu pengendalian gula darah,” ucapnya.

Namun, kebutuhan kalori minimal atau basal metabolic rate harus diperhatikan. “Jika asupan di bawah kebutuhan minimal, tubuh bisa mengalami defisit energi,” katanya. “Dalam jangka panjang, massa otot dapat menurun bila defisit berlanjut."

Ia menyarankan pengurangan kalori bertahap sekitar 300–500 kkal per hari. Agar Ramadan sehat, ia mengingatkan tidak makan berlebihan saat berbuka.

“Puasa adalah momen ibadah sekaligus kesempatan memperbaiki pola makan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....