Legenda Sepak Bola Soroti Kemajuan Piala Dunia

  • 09 Jul 2026 20:52 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Babak perempat final Piala Dunia FIFA 2026 dinilai menjadi bukti bergesernya peta kekuatan sepak bola dunia. Turnamen yang untuk pertama kalinya diikuti 48 negara itu menghadirkan persaingan yang semakin kompetitif dan memberi ruang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk tampil di panggung dunia.

Delapan negara yang berhasil melaju ke babak perempat final terdiri atas enam wakil Eropa, yakni Prancis, Spanyol, Belgia, Norwegia, Inggris, dan Swiss, serta Argentina dari Amerika Latin dan Maroko dari Afrika. Meski belum ada wakil Asia di babak delapan besar, komposisi tersebut menunjukkan persaingan sepak bola dunia semakin merata.

Mantan kapten Tim Nasional Indonesia peraih medali emas SEA Games 1991 sekaligus legenda Persebaya Surabaya, Ferril Raymond Hattu, menilai keseruan Piala Dunia 2026 tidak terlepas dari keberhasilan FIFA mendorong pengembangan sepak bola di berbagai negara.

"Ini perubahan besar Piala Dunia. Memang di delapan besar tidak ada wakil Asia, tetapi ada Maroko dari Afrika dan Norwegia yang mampu bersaing dengan negara-negara besar Eropa. Menurut saya, ini menunjukkan program pengembangan FIFA mulai memberikan dampak terhadap pemerataan kualitas sepak bola dunia," ujar Bung Raymond saat diwawancarai RRI Surabaya, Kamis 9 Juli 2026.

Menurut Bung Raymond, pemerataan kualitas sepak bola juga terlihat dari semakin banyaknya negara yang mampu memberikan kejutan sepanjang turnamen. Kehadiran negara-negara yang sebelumnya jarang diperhitungkan, termasuk debutan Cape Verde yang mampu mencuri perhatian pada Piala Dunia 2026, menunjukkan bahwa pembinaan yang terencana dapat meningkatkan daya saing sebuah negara di level internasional.

Selain menghadirkan persaingan antarnegera yang lebih berimbang, Piala Dunia 2026 juga menjadi panggung pertemuan dua generasi pesepak bola dunia. Di satu sisi masih tampil pemain-pemain senior seperti Lionel Messi, Kylian Mbappé, Harry Kane, Kevin De Bruyne, Erling Haaland, dan Achraf Hakimi. Di sisi lain, pemain muda seperti Lamine Yamal, Jude Bellingham, Cole Palmer, Pedri, Nico Williams, hingga Michael Olise mulai menjadi tulang punggung tim nasional masing-masing.

"Banyak pemain muda yang sudah mampu menjadi pembeda. Itu membuat Piala Dunia tahun ini lebih berwarna, lebih seru, dan kualitas persaingannya semakin tinggi," katanya.

Meski peluang Indonesia menuju Piala Dunia terbuka lebih besar seiring bertambahnya jumlah peserta menjadi 48 negara, Bung Raymond mengingatkan bahwa kesempatan tersebut harus diimbangi dengan pembenahan menyeluruh terhadap sepak bola nasional.

"Indonesia punya kans, tetapi syaratnya organisasi harus dibenahi. Kita masih kalah dibanding Vietnam, Thailand, bahkan Filipina dalam tata kelola sepak bola. Padahal sejarah sepak bola kita panjang," ujarnya.

Ia mencontohkan Jepang sebagai negara yang mampu berkembang menjadi salah satu kekuatan sepak bola Asia karena membangun sistem pembinaan berbasis riset, kompetisi usia dini yang berjenjang, serta tata kelola organisasi yang konsisten.

"Jepang berkembang karena riset. Kita belum sampai ke sana. Kalau sekadar menjadi tuan rumah mungkin bisa, tetapi untuk menjadi negara sepak bola yang kuat dibutuhkan pembangunan yang berkelanjutan," jelasnya.

Menurut Bung Raymond, dukungan FIFA terhadap pengembangan sepak bola seharusnya dimanfaatkan setiap federasi untuk memperkuat pembinaan pemain, meningkatkan kualitas kompetisi, serta membangun organisasi yang profesional. Dengan langkah tersebut, Indonesia diharapkan mampu mengikuti jejak negara-negara yang berhasil meningkatkan kualitas sepak bolanya dan bersaing di Piala Dunia.

Menjelang laga perempat final yang mempertemukan Prancis dan Maroko, Bung Raymond menjagokan Prancis untuk melangkah ke semifinal.

"Saya mendukung Prancis karena mereka memiliki mental bertanding yang sangat baik," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....