Sejarah Bakso Masuk Indonesia, Jejak Kuliner Tionghoa di Tanah Jawa
- 05 Okt 2026 09:29 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bakso saat ini dikenal sebagai salah satu makanan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Hidangan berupa bola-bola daging ini dapat ditemukan di berbagai daerah dengan beragam bentuk, bahan, kuah, dan cara penyajian. Namun, perjalanan bakso hingga menjadi bagian dari kuliner Indonesia berkaitan erat dengan sejarah migrasi masyarakat Tionghoa dan proses percampuran budaya di Jawa.
Sejarah bakso di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari tradisi kuliner masyarakat Tionghoa. Artikel ilmiah karya Ary Budiyanto berjudul From Tiao Wan (跳丸) to Bakwan (肉丸) and Bakso (肉酥): The Culinary History of Chaoshan Peranakan Cuisine in Java menjelaskan bahwa perkembangan bakso di Jawa merupakan bagian dari hubungan panjang antara tradisi kuliner Tionghoa, masyarakat Peranakan, dan budaya makanan Jawa.
Menurut penelitian tersebut, perkembangan makanan berbentuk bola daging berkaitan dengan jaringan migrasi masyarakat Tionghoa, khususnya komunitas Hakka dan Teochew, yang ikut membentuk kehidupan kuliner di Jawa. Perpindahan masyarakat tersebut tidak hanya membawa tradisi, tetapi juga teknik pengolahan makanan yang kemudian berinteraksi dengan kebiasaan memasak masyarakat setempat.
Dalam perkembangannya, makanan tersebut tidak begitu saja dipertahankan dalam bentuk aslinya. Masyarakat di Jawa melakukan berbagai penyesuaian terhadap bahan, rasa, bentuk, dan cara penyajiannya. Proses tersebut membuat bakso berkembang menjadi makanan yang memiliki karakter berbeda dibandingkan makanan bola daging dari tradisi Tionghoa sebelumnya.
Salah satu perubahan penting terlihat dari penggunaan bahan. Bakso yang dikenal masyarakat Indonesia saat ini umumnya menggunakan daging sapi, meskipun terdapat pula bakso berbahan ayam, ikan, udang, dan bahan lainnya. Perubahan tersebut menunjukkan adanya penyesuaian terhadap kebiasaan makan dan kebutuhan masyarakat lokal.
Proses akulturasi juga terlihat dalam cara bakso disajikan. Bakso kemudian berkembang menjadi hidangan berkuah yang dapat dipadukan dengan mi, tahu, pangsit, sayuran, dan berbagai pelengkap lainnya. Dalam penelitian Budiyanto, perkembangan tersebut dipandang sebagai bagian dari proses negosiasi antara warisan kuliner Peranakan, praktik makanan halal, dan selera masyarakat lokal.
Perjalanan bakso juga memperlihatkan bagaimana makanan dapat berubah ketika berpindah dari satu wilayah budaya ke wilayah lainnya. Teknik pembuatan dan konsep makanan bola daging dapat memiliki akar dari tradisi Tionghoa, tetapi masyarakat Jawa dan kelompok masyarakat lainnya kemudian memberikan sentuhan yang berbeda.
Di Jawa Timur, perkembangan kuliner bakso kemudian melahirkan berbagai bentuk yang khas. Salah satunya adalah bakwan atau bakso yang berkembang di Malang. Penelitian tersebut secara khusus membahas bagaimana kuliner masyarakat Tionghoa-Peranakan dan budaya Jawa saling berhubungan dalam perkembangan bakwan dan bakso di wilayah tersebut.
Menariknya, perkembangan bakso tidak berhenti pada satu bentuk. Seiring perubahan zaman, masyarakat menciptakan berbagai variasi seperti bakso kuah, bakso goreng, bakso pangsit, hingga berbagai bakso dengan isian. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa makanan terus mengalami inovasi mengikuti selera dan kondisi masyarakat.
Dari makanan yang memiliki keterkaitan dengan tradisi kuliner Tionghoa, bakso akhirnya berkembang menjadi makanan yang identik dengan Indonesia. Pedagang kaki lima, warung makan, hingga restoran menyajikannya dengan karakter masing-masing.
Sejarah bakso menjadi contoh bahwa perjalanan sebuah makanan tidak selalu berjalan dalam satu arah. Migrasi manusia, perdagangan, pertukaran budaya, dan kreativitas masyarakat dapat mengubah makanan dari satu tradisi menjadi bagian dari budaya kuliner baru.
Kini, semangkuk bakso yang berisi bola-bola daging, mi, tahu, pangsit, sayuran, dan kuah gurih bukan hanya sekadar makanan. Di balik penyajiannya terdapat perjalanan panjang pertemuan budaya Tionghoa dan masyarakat Jawa yang berlangsung dari generasi ke generasi.
Dengan demikian, bakso Indonesia dapat dilihat sebagai hasil perkembangan kuliner lintas budaya. Tradisi yang memiliki hubungan dengan kuliner Tionghoa mengalami perubahan setelah berkembang di Jawa, kemudian melahirkan beragam bentuk bakso yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia hingga sekarang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....