Dari Daging Panggang Steak, Inilah Jejak Sejarahnya
- 07 Sep 2026 09:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID Surabaya - Steak dikenal sebagai salah satu hidangan berbahan daging yang memiliki penggemar di berbagai penjuru dunia. Potongan daging yang dipanggang atau dibakar hingga menghasilkan aroma khas ini kini dapat ditemukan mulai dari restoran sederhana hingga restoran kelas premium.
Namun, jauh sebelum steak menjadi hidangan populer seperti sekarang, manusia telah memiliki tradisi mengolah daging dengan cara dipanggang. Sejarah panjang tersebut berkaitan erat dengan perkembangan manusia dalam memanfaatkan api dan berbagai alat untuk mengolah makanan.
Menurut Encyclopaedia Britannica, steak pada dasarnya merupakan potongan daging yang cukup tebal dan dapat dimasak dengan cara digoreng, dipanggang, atau direbus. Istilah “steak” sendiri diperkirakan berasal dari bahasa Islandia, yaitu steik, yang berarti daging panggang. Kata tersebut berhubungan dengan steikja, yakni kegiatan memanggang daging dengan menempatkannya pada tongkat atau penusuk di atas api.
Jejak asal kata tersebut menunjukkan bahwa teknik memasak daging di atas api telah memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi kuliner masyarakat Eropa Utara. Dari teknik sederhana menggunakan api dan tongkat, cara mengolah daging kemudian berkembang menjadi berbagai metode memasak yang dikenal hingga saat ini.
Menariknya, steak sebenarnya tidak hanya berasal dari daging sapi. Britannica menjelaskan bahwa steak dapat dibuat dari berbagai jenis daging maupun ikan. Meski demikian, beef steak atau steak daging sapi menjadi jenis yang paling dikenal masyarakat. Beberapa potongan yang populer antara lain rump steak dan tenderloin.
Seiring berkembangnya tradisi kuliner, berbagai jenis potongan daging kemudian mendapatkan nama dan karakteristik masing-masing. Salah satunya adalah porterhouse steak, potongan daging dari bagian loin yang memiliki sejarah penamaan yang menarik.
Menurut Britannica, istilah porterhouse tampaknya pertama kali digunakan di New York dan berkaitan dengan sebuah tempat makan yang dikenal sebagai porter-house. Restoran tersebut menyajikan berbagai makanan seperti chop dan steak, sementara porter atau stout menjadi salah satu minuman yang ditawarkan.
Perkembangan steak akhirnya tidak hanya berkaitan dengan cara memasak, tetapi juga dengan bagaimana manusia mengenali kualitas dan bagian-bagian daging. Potongan yang berbeda menghasilkan tekstur, rasa, serta tingkat kelembutan yang berbeda pula.
Dalam perkembangannya, steak kemudian menjadi bagian dari berbagai budaya kuliner. Cara penyajiannya pun semakin beragam. Ada yang memilih steak dengan tingkat kematangan rendah agar bagian dalam tetap merah dan juicy, sementara sebagian lainnya lebih menyukai daging yang matang sempurna.
Kini, steak telah menjadi hidangan yang sangat fleksibel. Daging dapat dipadukan dengan berbagai saus, sayuran, kentang, hingga bumbu khas dari berbagai negara. Teknik memasaknya pun semakin beragam, mulai dari memanggang menggunakan bara api hingga menggunakan peralatan modern.
Perjalanan steak menunjukkan bahwa makanan yang terlihat sederhana ternyata menyimpan sejarah panjang. Berawal dari tradisi memanggang daging di atas api, steak berkembang menjadi hidangan yang memiliki banyak jenis potongan, teknik memasak, dan gaya penyajian.
Jadi, ketika menikmati sepotong steak, kita sebenarnya sedang menikmati hasil perjalanan panjang tradisi manusia dalam mengolah daging. Dari api sederhana dan sepotong daging, lahirlah salah satu hidangan yang hingga kini tetap menjadi favorit di meja makan dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....