Menelusuri Kelezatan Koci-Koci, Jajanan Tradisional Berbalut Daun Pisang

  • 14 Jul 2026 12:56 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah gempuran aneka kuliner kekinian dan camilan impor yang estetik, jajanan pasar tradisional Indonesia rupanya tetap punya tempat istimewa di hati para pencinta kuliner. Salah satu primadona klasik yang masih terus diburu hingga saat ini adalah kue koci-koci (atau sering disebut kue koci).

Camilan bertekstur kenyal dengan cita rasa manis-gurih yang khas ini seolah tak pernah gagal membawa kita bernostalgia ke masa kecil. Kue basah legendaris ini memiliki akar budaya yang kuat di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, Sunda, hingga masyarakat Melayu.

Di beberapa wilayah, koci-koci kerap diidentikkan dengan kue mendut atau kue bugis karena tampilannya yang mirip. Meski punya nama berbeda di tiap daerah, esensi kelezatannya tetap sama: perpaduan adonan ketan yang lembut berpadu dengan gurihnya santan dan manisnya isian kelapa.

Secara visual, daya tarik utama kue koci-koci terletak pada bungkus daun pisangnya yang unik, biasanya dibentuk menyerupai limas atau piramida kecil. Saat bungkusan tersebut dibuka, aroma harum daun pisang yang layu setelah dikukus langsung menyeruak, menggugah selera siapapun yang mendekat.

Permukaan kue yang licin karena dioles sedikit minyak atau santan kental membuatnya terlihat sangat menggoda untuk segera digigit. Rahasia kelezatan koci-koci terletak pada keseimbangan rasa antara kulit luar dan isian di dalamnya.

Kulitnya yang kenyal terbuat dari adonan tepung ketan putih atau ketan hitam yang dicampur dengan santan encer. Sementara bagian dalamnya diisi dengan unti, yaitu parutan kelapa muda yang dimasak bersama gula merah hingga meresap dan menghasilkan rasa manis legit yang pekat.

Proses pembuatan kue koci-koci ini terbilang gampang-gampang susah dan membutuhkan ketelatenan ekstra. Adonan ketan yang sudah kalis harus dipipihkan terlebih dahulu, diberi isian unti kelapa, dibulatkan kembali, lalu dibungkus rapi dengan daun pisang sebelum akhirnya dikukus hingga matang. Beberapa pembuat kue tradisional bahkan menambahkan siraman kuah santan kental di dalam bungkusan daun pisang agar sensasi gurihnya semakin pecah di mulut.

Daun pisang yang digunakan untuk membungkus koci-koci biasanya harus dilayukan terlebih dahulu di atas api kecil atau dijemur. Tujuannya adalah agar daun menjadi lemas dan tidak mudah robek saat dilipat membentuk limas.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, koci-koci bukan sekadar pengganjal perut di pagi hari. Kue ini memegang peranan penting sebagai hidangan wajib dalam berbagai upacara adat, hajatan pernikahan, hingga acara kumpul keluarga (slametan).

Kehadiran kue manis bertekstur lengket ini kerap disimbolkan sebagai harapan agar tali silaturahmi antaranggota keluarga dan masyarakat tetap erat dan tidak mudah putus.

Meskipun zaman terus berubah, para perajin kue basah tradisional terus berinovasi agar koci-koci tetap diminati generasi muda. Kini, Anda bisa menemukan koci-koci dengan variasi warna-warni alami dari sari daun suji, ubi ungu, hingga modifikasi isian modern seperti kacang hijau kupas bahkan cokelat. Menjaga eksistensi koci-koci adalah bagian dari merawat warisan kuliner Nusantara agar tidak hilang tergerus waktu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....