Cireng, Dari Dapur Sederhana ke Ikon Jajanan Nusantara
- 06 Mei 2026 09:14 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah ragam kuliner Indonesia yang kaya akan rempah dan cita rasa, cireng hadir sebagai bukti bahwa kesederhanaan pun bisa menjadi istimewa. Camilan khas Sunda ini dikenal luas dengan teksturnya yang kenyal di dalam dan renyah di luar. Namun di balik bentuknya yang sederhana, cireng menyimpan sejarah panjang yang lahir dari kreativitas masyarakat.
Menurut salah satu referensi buku kuliner tradisional Indonesia, seperti “Kuliner Tradisional Nusantara” karya Murdijati Gardjito, cireng mulai berkembang di wilayah Jawa Barat sekitar tahun 1970-an. Pada masa itu, kondisi ekonomi masyarakat mendorong pemanfaatan bahan pangan yang murah dan mudah diperoleh, salah satunya tepung tapioka atau yang dikenal dengan sebutan aci.
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa masyarakat Sunda memiliki kebiasaan mengolah aci menjadi berbagai jenis makanan, seperti cilok, cimol, dan termasuk cireng. Cireng kemudian muncul sebagai salah satu inovasi sederhana, yakni adonan aci yang dibumbui lalu digoreng. Teknik pengolahan yang praktis ini membuat cireng mudah dibuat di rumah maupun dijual sebagai jajanan kaki lima.
Awalnya, cireng tidak memiliki banyak variasi. Rasanya cenderung gurih dengan bumbu dasar seperti bawang putih dan garam. Namun justru kesederhanaan itulah yang menjadi daya tariknya. Dalam pembahasan buku tersebut, cireng disebut sebagai representasi dari kreativitas masyarakat dalam menciptakan makanan yang ekonomis namun tetap lezat dan mengenyangkan.
Seiring berjalannya waktu, cireng mulai dikenal luas dan menjadi jajanan populer di berbagai daerah, tidak hanya di Jawa Barat. Para pedagang mulai berinovasi dengan menambahkan berbagai isian, seperti ayam, keju, hingga sambal pedas. Bahkan, teknik memasaknya pun berkembang menjadi lebih variatif, seperti cireng crispy yang memiliki tekstur lebih renyah.
Lebih jauh, buku tersebut juga menyoroti bahwa cireng merupakan bagian dari identitas kuliner Sunda yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Kehadirannya tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol adaptasi dan ketahanan dalam menghadapi keterbatasan bahan pangan.
Kini, cireng telah bertransformasi menjadi camilan modern yang bisa ditemukan di berbagai tempat, mulai dari pedagang kaki lima hingga kafe kekinian. Meski tampilannya semakin beragam, cireng tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai makanan berbahan dasar aci yang sederhana.
Perjalanan cireng dari dapur rumahan hingga menjadi jajanan populer menunjukkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tidak selalu berasal dari bahan mahal atau proses yang rumit. Justru dari kesederhanaan itulah lahir rasa autentik yang mampu bertahan lintas generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....