Meledaknya Tren Dimsum Gerobakan di Sudut Kota

  • 29 Apr 2026 08:35 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Jika dulu dimsum identik dengan restoran mewah atau hotel berbintang dengan harga yang cukup merogoh kocek, kini pemandangan berbeda terlihat di berbagai sudut Kota Pahlawan. Fenomena dimsum pinggir jalan atau dimsum gerobakan tengah menjamur, mengubah peta kuliner warga Surabaya.

Dari kawasan padat penduduk di Karangmenjangan hingga bahu jalan protokol di wilayah Dharmawangsa, kepulan asap dari kukusan bambu dan panci aluminium besar menjadi magnet tersendiri bagi para pemburu kuliner. Salah satu alasan utama mengapa dimsum kini begitu marak adalah aksesibilitas harga.

Dengan hanya mengeluarkan uang berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000, warga sudah bisa menikmati satu porsi dimsum hangat berisi 3 hingga 4 biji. "Dulu kalau mau makan dimsum harus ke mal. Sekarang di pinggir jalan saja sudah ada. Rasanya pun bersaing, apalagi saus sambalnya seringkali punya ciri khas sendiri yang lebih pedas, cocok dengan lidah orang Surabaya," kata Diaz salah satu penikmat kuliner di kawasan Karangmenjangan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, pasar kuliner Karangmenjangan varian yang ditawarkan para pedagang kaki lima ini pun semakin beragam. Tidak hanya siomay ayam original, namun juga tersedia:

Dimsum Kepiting/Udang: Menggunakan topping crab stick atau potongan udang. Dimsum Nori: Dibalut dengan rumput laut yang memberikan aroma laut yang khas. Dimsum Mozzarella: Adaptasi kekinian dengan lelehan keju di atasnya.

Maraknya bisnis dimsum ini juga menjadi angin segar bagi ekonomi mikro di Surabaya. Banyak dari gerai ini merupakan usaha UMKM yang dikelola oleh anak muda. Dengan modal yang relatif terjangkau namun memiliki peminat yang stabil, bisnis ini dinilai sangat menjanjikan.

Tak hanya berjualan secara fisik, para pelaku usaha ini juga memanfaatkan platform pengiriman daring dan media sosial untuk menarik pelanggan. Tak jarang, antrean panjang terlihat di beberapa lapak yang sempat viral di TikTok atau Instagram.

Fenomena ini membuktikan bahwa selera warga Surabaya terhadap kuliner Tionghoa ini sangat besar, asalkan dikemas dengan harga yang merakyat dan lokasi yang mudah dijangkau. Kini, menikmati dimsum sambil menikmati angin Surabaya bukan lagi hal yang mewah, melainkan gaya hidup baru yang merakyat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....