Komnas PA Surabaya Soroti Isu Mental Health: Pentingnya Perhatian Orang Tua

  • 31 Agt 2026 20:07 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Mental Health atau Kesehatan Mental menjadi isu yang sedang santer berhembus khususnya pada kalangan anak muda saat ini. Kabar terbaru dari Rumah Sakit Daerah Prof. Moelyono atau RS Menur Surabaya yang menerima pasien gangguan mental termuda yakni 9 tahun menjadi bukti masalah serius bagi anak.

Melihat fenomena tersebut, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya Syaiful Bachri saat di wawancara RRI mengatakan terjadinya gangguan mental pada anak di bawah umur merupakan akibat dari kurangnya perhatian yang ideal dari orang tua dan keluarga.

“Masalah mental health ini sebenarnya adalah permasalahan yang disebabkan atau diakar dari keluarga itu sendiri. Karena banyaknya anak-anak sekarang ini tidak bisa menyelesaikan problem solvingnya sendiri, karena banyaknya intervensi orang tua karena kasih sayang yang berlebihan,” ujar Syaiful.

Ia menjelaskan lingkungan keluarga yang harmonis dan namun tetap memberikan tanggung jawab pada anak menjadi kunci utama untuk menciptakan keseimbangan bagi anak. Selain itu pola yang seimbang juga mampu menghadirkan komunikasi dan edukasi yang efektif dari orang tua kepada anak.

“Hal ini juga tidak bisa dilepas dari peran orang tua dan sekolah itu sendiri untuk bisa membantu menyelesaikan permasalahan anak dengan memberikan tanggung jawab dan tantangan sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga komunikasi anak tetap terjaga dan edukasinya tentu juga berjalan,” ucapnya.

Oleh karena itu dengan adanya fenomena mental health tersebut dirinya mengajak berbagai pihak mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan juga pemerintah untuk bersama-sama menciptakan ruang dan rumah yang nyaman bagi anak yang terangkum dalam 10 hak dasar anak.

Selain itu, faktor lain yang menjadi penyebab masalah tersebut yakni penggunaan gadget pada anak tanpa adanya pengawasan. Dirinya menjelaskan anak di bawah umur yang menggunakan gadget berpotensi mengalami krisis kepercayaan diri, susah mengontrol emosi serta meningkatnya jiwa individualisme pada anak.

“Jadi kalau dari penelitian para ahli, anak di usia di bawah 13 tahun itu ketika sudah dipegangi handphone, itu akan terjadi permasalahan. Permasalahan untuk yang gender laki-laki itu adalah dengan tidak bisa mengontrol emosi. Nah, untuk yang perempuan biasanya adalah krisis kepercayaan diri,” ungkapnya.

Solusi yang bisa di lakukan para orang tua untuk mengurangi potensi gangguan mental pada anak yakni bisa dengan cara mengajak anak kembali aktif mempraktekkan permainan tradisional. Selain mengasah otak, permainan tradisional dinilai mampu meningkatkan kinerja fisik anak sehingga dapat lebih sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....