Indonesia Masuk Negara Bugar, Apa Faktornya?
- 21 Agt 2026 07:35 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Indonesia ramai disebut masuk jajaran 10 negara paling bugar di dunia. Namun, predikat tersebut perlu dipahami secara lebih utuh karena dasar pemeringkatannya menggunakan angka prevalensi obesitas dewasa, bukan pengukuran kebugaran jasmani masyarakat secara langsung.
Data yang bersumber dari World Obesity Atlas 2025 menunjukkan Indonesia memiliki prevalensi obesitas dewasa sebesar 11,52 persen. Angka tersebut kemudian digunakan dalam sejumlah pemeringkatan untuk menempatkan Indonesia di antara negara dengan tingkat obesitas terendah di dunia.
World Obesity Federation melalui World Obesity Atlas 2025 menjelaskan, laporan tersebut menyajikan estimasi global dan regional mengenai prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa, termasuk proyeksi hingga 2030. Federasi juga menekankan pentingnya kebijakan yang mendorong lingkungan yang mendukung aktivitas fisik.
"World Obesity Atlas 2025 memproyeksikan jumlah orang dewasa yang hidup dengan obesitas akan meningkat lebih dari 115 persen antara 2010 dan 2030," demikian keterangan World Obesity Federation dalam laman resminya.
Artinya, angka obesitas yang relatif rendah tidak serta-merta dapat diartikan bahwa masyarakat suatu negara memiliki tingkat kebugaran jasmani yang tinggi. Kebugaran juga berkaitan dengan seberapa aktif masyarakat bergerak dan berolahraga dalam kehidupan sehari-hari.
Di Indonesia, data pemerintah menunjukkan masih ada tantangan dalam meningkatkan aktivitas fisik masyarakat. Badan Kebijakan Kesehatan Kementerian Kesehatan mencatat, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia atau SKI 2023, sebanyak 37,4 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas kurang melakukan aktivitas fisik. Sementara 62,6 persen lainnya berada dalam kategori aktivitas fisik cukup.
Kementerian Kesehatan dalam laman resminya juga menyebut, "37,4% penduduk Indonesia berusia diatas 10 tahun kurang melakukan aktivitas fisik. Data tersebut menunjukkan perilaku hidup aktif belum sepenuhnya menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Kementerian Kesehatan mencatat, alasan masyarakat kurang melakukan aktivitas fisik antara lain karena tidak memiliki waktu, merasa malas, faktor usia, hingga tidak memiliki rekan untuk beraktivitas. Dari hasil SKI 2023, sebanyak 48,7 persen responden menyebut tidak memiliki waktu sebagai alasan kurang melakukan aktivitas fisik, sedangkan 32,6 persen menyatakan malas.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kebugaran tinggi perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Rendahnya prevalensi obesitas merupakan salah satu indikator kesehatan populasi, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menggambarkan kebugaran jasmani masyarakat.
Meski demikian, perhatian terhadap gaya hidup sehat dapat menjadi momentum untuk mendorong masyarakat lebih aktif bergerak. Aktivitas fisik secara rutin tidak hanya berkaitan dengan kebugaran, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan mencegah berbagai penyakit tidak menular.
Dengan demikian, jika Indonesia disebut sebagai salah satu negara paling bugar berdasarkan rendahnya angka obesitas, predikat tersebut sebaiknya tidak berhenti pada sebuah peringkat. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mempertahankan pola hidup aktif, rutin berolahraga, menjaga pola makan, serta menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....