Kotoran Telinga Bisa Jadi Petunjuk Bau Badan, Bukan Soal Jarang Mandi
- 19 Agt 2026 05:12 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bau badan sering kali dikaitkan dengan kebiasaan seseorang yang jarang mandi atau kurang menjaga kebersihan diri. Bahkan, masih ada anggapan bahwa bau badan dapat menular melalui kontak fisik. Namun, anggapan tersebut perlu diluruskan karena penyebab bau badan tidak sesederhana persoalan kebersihan tubuh.
Hal tersebut disampaikan dr. Syarif, spesialis THT dari Surabaya, saat dihubungi Pro1 melalui sambungan telepon, Selasa 18 Agustus 2026. Ia menjelaskan, keringat pada dasarnya bukan penyebab utama munculnya bau badan.
“Bau badan tidak disebabkan oleh cairan keringat itu sendiri, melainkan hasil percampuran antara keringat dan bakteri yang ada di kulit,” ujar dr. Syarif.
Menurutnya, salah satu hal yang menarik untuk melihat kecenderungan seseorang mengalami bau badan adalah kondisi kotoran telinga. Kotoran telinga ternyata dapat menjadi petunjuk tertentu yang berkaitan dengan faktor genetik dalam tubuh seseorang.
| Baca juga: Cegah Nipah dari Lingkungan Sekitar |
“Kotoran telinga bisa menjadi petunjuk kecenderungan bau badan seseorang. Ini bukan mitos, tetapi berkaitan dengan gen ABCC11 yang memengaruhi jenis kotoran telinga dan produksi keringat,” ujarnya.
Ia menerangkan, orang yang memiliki kotoran telinga basah cenderung menghasilkan lebih banyak zat tertentu dalam keringat. Zat tersebut sebenarnya tidak berbau, tetapi dapat menghasilkan bau ketika bercampur dengan bakteri yang terdapat di permukaan kulit. Sebaliknya, orang dengan kotoran telinga kering umumnya menghasilkan lebih sedikit zat tersebut sehingga bau badan cenderung lebih ringan.
Meski demikian, dr. Syarif menegaskan bahwa faktor genetik bukan satu-satunya penentu bau badan. Pola makan, kebersihan tubuh, perubahan hormon, tingkat stres, serta aktivitas sehari-hari juga dapat memengaruhi munculnya bau badan.
“Jadi, memiliki bau badan bukan berarti seseorang tidak menjaga kebersihan. Bisa saja ada faktor genetik, pola makan, hormon, stres, maupun aktivitas sehari-hari yang ikut berperan,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....