Diversifikasi Kurangi Risiko Kesehatan Petani Tembakau
- 01 Agt 2026 07:13 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Kurnia Dwi Artanti, menyebut sejumlah petani mulai beralih dari menanam tembakau ke komoditas lain yang lebih menguntungkan. Perubahan itu didorong pengalaman petani yang menemukan alternatif usaha tani dengan risiko kesehatan lebih rendah.
Menurut Kurnia, petani yang semula bergantung pada tembakau kini melakukan diversifikasi tanaman. Langkah tersebut menjadi pilihan setelah mereka menyadari masih banyak komoditas lain yang dapat memberikan nilai ekonomi.
| Baca juga: Dompet di Saku Belakang Ganggu Postur Duduk |
"Petani awalnya mereka adalah petani tembakau. Kemudian mereka melakukan diversifikasi karena dari pengalaman mereka ternyata ada cara lain selain menanam tembakau," ujarnya, Jumat, 31 Juli 2026.
Ia menjelaskan, meski sebagian orang menilai budidaya tembakau menguntungkan, pekerjaan tersebut juga memiliki risiko kesehatan. Salah satunya adalah Green Tobacco Sickness (GTS) atau keracunan nikotin akibat penyerapan nikotin dari daun tembakau basah melalui kulit.
Kurnia mengatakan, GTS dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan. Gejalanya meliputi mual, muntah, pusing, sakit kepala, tubuh lemas, hingga berkeringat berlebihan.
"Karena menanam tembakau itu, walaupun ada orang yang mengatakan menguntungkan. Tetapi ada satu sisi penyakit yang bisa muncul yakni green tobacco sickness," katanya.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut mendorong sebagian petani memilih komoditas lain yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat lebih luas. Diversifikasi tanaman dinilai menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi risiko kesehatan akibat paparan nikotin saat panen tembakau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....