Stres dan Kecemasan Mengintai Anak Sekolah, Orang Tua Wajib Tahu
- 14 Jul 2026 10:33 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Data Kementerian Kesehatan melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mengungkap fakta mengejutkan: hampir 10 persen anak usia sekolah di Indonesia mengalami gejala gangguan mental. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, sebanyak 4,8 persen atau 363.326 anak menunjukkan gejala depresi, sementara 4,4 persen atau 338.316 anak terdeteksi mengalami kecemasan.
Angka ini lima kali lebih tinggi dibandingkan temuan pada kelompok dewasa, yang hanya mencatat 0,9 persen gejala depresi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa masalah kesehatan jiwa pada anak bukan isu sepele karena dapat berujung pada kematian akibat bunuh diri. Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan tren peningkatan anak yang mencoba bunuh diri dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
| Baca juga: Mengenal Vertigo dan Cara Mencegahnya |
Faktor keluarga menjadi penyumbang terbesar, diikuti oleh tekanan akademik, konflik pertemanan, perundungan, hingga paparan media sosial dan cyberbullying. Gejala gangguan mental pada anak sering kali tidak disadari orang tua karena anak tidak selalu mampu mengungkapkan perasaannya secara verbal.
Perubahan emosi yang tiba-tiba, penurunan prestasi belajar, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga sering mengeluh sakit perut atau sakit kepala tanpa sebab jelas merupakan sinyal yang perlu diwaspadai. Kajian psikologi anak menekankan pentingnya orang tua membangun komunikasi dua arah dengan anak, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan pujian atas hal-hal kecil yang dilakukan anak.
| Baca juga: Bolehkah Sering Mencabut Uban? |
Selain peran keluarga, sekolah juga menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dini masalah kesehatan mental anak. Kementerian Kesehatan telah menjalankan program Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) dan mendorong peran guru bimbingan konseling sebagai pihak pertama yang melihat perubahan perilaku siswa.
Guru BK diharapkan mampu melakukan pendekatan, memberikan dukungan emosional, dan menghubungkan anak dengan layanan profesional jika ditemukan tanda risiko tinggi. Masyarakat dan orang tua diimbau untuk tidak mengabaikan tanda-tanda kecil yang ditunjukkan anak karena masalah kesehatan mental dapat berdampak jangka panjang pada masa depan mereka.
Dengan komunikasi yang hangat, pengawasan penggunaan gawai yang bijak, serta dorongan aktivitas fisik dan sosial yang positif, orang tua dapat menjadi benteng pertama perlindungan kesehatan mental anak. Jika gejala terus berlanjut, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga medis profesional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....