Memahami Apa itu Depresi, untuk Bantu Orang di Sekitar Kita

  • 01 Jul 2026 16:26 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Depresi adalah gangguan kesehatan mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Gangguan ini bukan sekadar rasa sedih biasa yang muncul sesaat, melainkan kondisi yang dapat berlangsung lama dan mengganggu berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan sosial, pekerjaan, hingga kesehatan fisik.

Seseorang yang mengalami depresi dapat merasakan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, kehilangan semangat, merasa tidak berharga, hingga memiliki pikiran negatif yang berulang tentang diri sendiri dan kehidupannya.

Gejala depresi kerap dianggap remeh sebagai dampak kelelahan atau stres biasa, padahal dampaknya sangat luas. Gejala yang umum dialami antara lain perasaan sedih mendalam yang berkepanjangan, kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, perasaan putus asa dan tidak berharga, kesulitan berkonsentrasi, kecemasan berlebihan, hingga pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Keluhan fisik seperti sakit kepala dan nyeri punggung tanpa sebab yang jelas juga kerap menyertai penderita depresi. Jika gejala-gejala ini bertahan dalam jangka waktu minimal dua minggu, maka bisa dikatakan seseorang mulai diindikasi mengalami depresi.

Melansir ayosehat.kemkes.go.id, depresi dapat disebabkan oleh kombinasi faktor biologis, genetik, dan lingkungan. Faktor biologis terkait dengan perubahan fungsi otak dan ketidakseimbangan zat kimia seperti serotonin, noradrenalin, dan dopamin yang memengaruhi suasana hati.

Sementara itu, faktor genetik membuat seseorang dengan riwayat keluarga depresi memiliki kerentanan lebih tinggi mengalami gangguan serupa. Faktor lingkungan seperti kehilangan orang terdekat, trauma, masalah ekonomi, maupun konflik dalam hubungan sosial juga dapat menjadi pemicu munculnya depresi.

Data menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa di Indonesia sangat memprihatinkan. Berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026, sekitar 4,8 persen atau 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi, sementara 4,4 persen atau 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa anak-anak (usia dibawah 18 tahun) lima kali lebih rentan terkena depresi dibandingkan orang dewasa, dengan angka kejadian pada anak mencapai 5 persen, sedangkan pada dewasa hanya di bawah 1 persen. Dari sekitar 3 juta penderita depresi usia di atas 15 tahun, hanya 0,4 persen yang mendapatkan layanan kesehatan mental, menunjukkan masih tingginya kesenjangan akses layanan di Indonesia.

Memahami depresi adalah langkah pertama untuk membantu orang di sekitar kita. Jika seseorang menunjukkan gejala depresi selama lebih dari dua minggu, langkah yang dapat dilakukan antara lain mengajaknya bercerita tentang kondisi yang dialami, mendukungnya menjaga pola makan, pola tidur, dan aktivitas fisik secara rutin, serta membantunya melawan pikiran negatif dengan mengingat hal-hal positif.

Yang terpenting, dukunglah mereka untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater guna mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting dalam proses pemulihan penderita depresi . Ingatlah, depresi bisa diatasi dengan penanganan yang tepat, dan kesadaran untuk mencari bantuan adalah langkah awal menuju pemulihan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....