Produksi Air Liur Menurun Picu Bau Mulut Lansia

  • 27 Apr 2026 22:28 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,Surabaya - Masalah bau mulut atau halitosis kerap menjadi keluhan yang membingungkan bagi para lansia dan keluarganya. Kondisi ini sering menimbulkan keresahan, terutama ketika kebersihan mulut sudah dijaga dengan baik namun aroma tidak sedap tetap muncul. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan, apakah penyebabnya semata karena faktor kebersihan atau ada kondisi lain yang lebih kompleks di baliknya.

Fenomena ini mendapat penjelasan medis dari dr. Andriawan, seorang dokter yang bertugas di salah satu Fasilitas Kesehatan (Faskes) BPJS di Surabaya. Melalui sambungan telepon bersama Pro1, Senin 27 April 2026, ia mengungkapkan bahwa penyebab utama bau mulut pada lansia sering kali bukan karena sisa makanan atau kebersihan yang kurang terjaga.

"Masalah ini bukan karena kebersihan, melainkan kondisi medis yang disebut xerostomia atau mulut kering," ungkap dr. Andriawan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa banyak masyarakat masih memiliki pemahaman yang kurang tepat terkait penyebab bau mulut pada usia lanjut.

Menurutnya, seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan fisiologis, termasuk penurunan produksi air liur. Padahal, air liur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut, yakni sebagai pembersih alami yang membantu menghilangkan sisa makanan dan menetralkan asam.

Lebih lanjut, dr. Andriawan menjelaskan bahwa berkurangnya produksi air liur membuat mulut menjadi kering dan kehilangan kemampuan pembersihan alaminya. Kondisi ini kemudian menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri penyebab bau tidak sedap.

"Ketika produksi air liur berkurang, kondisi mulut kering ini mempercepat perkembangbiakan bakteri anaerob. Bakteri inilah yang menghasilkan gas belerang yang menyebabkan bau mulut sangat menyengat," terangnya.

Selain faktor usia, penggunaan obat-obatan untuk penyakit kronis juga turut memperparah kondisi tersebut. Lansia yang mengonsumsi obat untuk tekanan darah tinggi atau diabetes, misalnya, berpotensi mengalami efek samping berupa mulut kering.

"Obat-obatan untuk penyakit seperti darah tinggi atau diabetes sering kali memiliki efek samping yang memperparah kondisi mulut kering ini," tambahnya. Hal ini membuat penanganan bau mulut pada lansia menjadi lebih kompleks dan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

Untuk mengatasi masalah tersebut, dr. Andriawan menyarankan beberapa langkah penting, seperti menjaga kecukupan cairan tubuh, rutin minum air putih, serta berkonsultasi dengan tenaga medis terkait efek samping obat yang dikonsumsi. Ia juga mengingatkan agar pasien tidak menghentikan penggunaan obat tanpa arahan dokter.

"Jadi dari sini kita bisa memahami kondisi lansia, untuk lebih peduli merawatnya. Karena bagaimanapun juga, kita semua akan merasakannya," pungkas dr. Andriawan. Ia berharap masyarakat dapat lebih peka dan tidak lagi menganggap remeh bau mulut pada lansia, melainkan sebagai tanda yang perlu mendapatkan perhatian medis serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....