Disosiasi Jadi Penjelasan Medis Dibalik Fenomena Kerasukan

  • 20 Apr 2026 18:22 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Fenomena kerasukan yang belakangan marak ditampilkan di media sosial menjadi sorotan publik dan memicu beragam tanggapan dari netizen. Tayangan tersebut kerap memperlihatkan seseorang yang berteriak, tubuh bergetar, hingga bertingkah di luar kendali.

Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan hal supranatural, namun tidak sedikit pula yang mulai mempertanyakan dari sudut pandang ilmiah. Menanggapi hal ini, Dokter Syarif Al Bani, seorang ahli neurologi dari Surabaya, memberikan penjelasan medis terkait fenomena tersebut.

Dalam perbincangan melalui sambungan telepon bersama Pro 1, Senin 20 April 2026, ia menegaskan bahwa istilah kerasukan tidak dikenal dalam dunia medis. “Ditinjau dari sisi medis, sebenarnya kerasukan itu tidak ada. Yang ada adalah kondisi seperti dissociation atau disosiasi,” ucapnya.

Menurut Dr. Syarif, disosiasi merupakan mekanisme otak dalam menghadapi tekanan mental yang sangat tinggi. Kondisi ini terjadi ketika kesadaran seseorang terputus sebagai bentuk perlindungan diri terhadap stres ekstrem. “Ketika tekanan emosi terlalu tinggi, bagian otak pengontrol logika melemah, sementara pusat emosi mengambil alih kendali,” ujarnya.

Akibat dari kondisi tersebut, seseorang dapat menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Gejala yang muncul bisa berupa teriakan histeris, tubuh yang bergetar tanpa kendali, perubahan suara, hingga perasaan seolah dirinya dikendalikan oleh sosok lain. Hal inilah yang kemudian sering diartikan sebagai kerasukan dalam perspektif masyarakat umum.

Lebih lanjut, Dr. Syarif menjelaskan bahwa bentuk “kerasukan” ternyata sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya seseorang. Ia mencontohkan bahwa di Indonesia fenomena ini sering dikaitkan dengan jin, sementara di negara Barat disebut sebagai demon, dan di Jepang dikenal dengan roh Yokai. “Gejalanya mirip tapi sosoknya berbeda. Ini menunjukkan otak memakai kepercayaan lokal untuk menjelaskan pengalaman mental yang intens,” katanya.

Fenomena ini juga dapat terjadi secara massal, terutama di lingkungan yang memiliki tingkat tekanan tinggi seperti sekolah. Ketika satu individu mengalami kepanikan, kondisi tersebut dapat memicu respons serupa pada orang lain. “Otak manusia memiliki mekanisme kewaspadaan terhadap ancaman. Saat satu orang panik, yang lain bisa ikut terpengaruh sehingga reaksinya menyebar seperti efek domino,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menanggapi fenomena ritual atau praktik tertentu yang dianggap mampu menyembuhkan kondisi kerasukan. Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan sugesti dan rasa aman yang muncul pada diri seseorang. Ketika individu merasa terlindungi dan percaya bahwa dirinya akan sembuh, tingkat stres menurun dan sistem saraf perlahan kembali stabil.

Di akhir penjelasannya, Dr. Syarif menekankan pentingnya memahami fenomena ini secara rasional dan ilmiah. Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut bukanlah bentuk kepura-puraan, melainkan respons alami otak terhadap tekanan mental. “Jadi menurut sains, kerasukan bukan berarti orangnya pura-pura, tapi kemungkinan besar adalah cara otak bereaksi saat mental berada di batasnya,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....