Waspada Leptospirosis Penyakit Berbahaya Dari Urin Tikus
- 31 Mei 2026 20:58 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya – Kabar meninggalnya tiga warga Blitar yang diduga terinfeksi bakteri dari urin tikus menjadi perhatian masyarakat dan tenaga kesehatan. Kasus ini ramai diperbincangkan di media sosial karena penyakit yang dianggap sepele ternyata dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian.
Menanggapi peristiwa tersebut, dokter dari Faskes 1 BPJS Kesehatan Surabaya, dr Hendra Setiawan, memberikan penjelasan kepada Pro1 melalui sambungan telepon pada Minggu 31 Mei 2026. Ia menjelaskan bahwa penyakit yang menyebabkan kematian ketiga warga tersebut dikenal secara medis sebagai Leptospirosis.
“Meninggalnya tiga orang warga di Blitar akibat urin tikus yang dalam bahasa medis disebut dengan infeksi bakteri leptospirosis. Penyakit ini memang berasal dari urin tikus, hal yang sering kita anggap sepele dalam keseharian,” jelas dr Hendra.
Menurutnya, Leptospirosis merupakan penyakit menular yang penyebarannya terjadi melalui air atau tanah yang telah terkontaminasi urin maupun kotoran tikus. Risiko penularan biasanya meningkat pada lingkungan yang lembap, kawasan dengan sanitasi kurang baik, atau setelah terjadi banjir.
Dr Hendra menerangkan bahwa bakteri penyebab Leptospirosis dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil pada kulit maupun melalui selaput lendir seperti mata dan hidung ketika seseorang bersentuhan dengan air atau tanah yang telah tercemar. Karena itu, masyarakat perlu lebih waspada terhadap lingkungan sekitar.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit ini adalah gejala awalnya yang sering menyerupai flu biasa. “Gejala awalnya mirip sakit biasa: demam, nyeri otot, sakit kepala, mata merah. Jika dibiarkan, infeksi bisa bertambah parah, merusak organ tubuh, hingga berujung kematian,” ujar dr Hendra.
| Baca juga: Manfaat Rutin Minum Wedang Jahe Setiap Pagi |
Ia menambahkan, apabila tidak segera ditangani, infeksi dapat menyebar ke berbagai organ vital seperti ginjal, hati, dan paru-paru. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir, lingkungan dengan banyak tikus, atau kawasan dengan sanitasi buruk diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit ini.
Sebagai langkah pencegahan, dr Hendra mengimbau masyarakat untuk selalu menggunakan alas kaki saat beraktivitas, menghindari kontak langsung dengan air atau tanah yang kotor, serta menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus.
“Jangan menunggu gejala bertambah parah. Jika Anda demam setelah terpapar air yang berisiko, segera periksakan diri ke dokter,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....