WHO Ungkap Fakta Gangguan Bipolar Global

  • 05 Mar 2026 09:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - World Health Organization (WHO) mengungkapkan bahwa gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan mental kronis yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara ekstrem. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku sehingga berdampak pada kehidupan sosial maupun pekerjaan.

Dilansir dari WHO, gangguan bipolar ditandai dengan episode mania dan depresi yang terjadi secara bergantian. Pada fase mania, seseorang dapat merasa sangat berenergi, berbicara lebih cepat dari biasanya, merasa sangat percaya diri, atau mudah tersinggung. Sebaliknya, pada fase depresi, individu dapat mengalami kesedihan mendalam, kehilangan minat terhadap aktivitas, serta penurunan energi.

Secara global, WHO memperkirakan sekitar 40 juta orang di dunia hidup dengan gangguan bipolar. Kondisi ini dapat dialami oleh pria maupun wanita di berbagai negara, menunjukkan bahwa gangguan bipolar merupakan isu kesehatan mental berskala internasional.

WHO menjelaskan bahwa gangguan bipolar umumnya mulai muncul pada akhir masa remaja atau awal usia dewasa. Meski demikian, gejalanya dapat berkembang secara bertahap dan sering kali tidak langsung terdiagnosis pada tahap awal.

Episode mania dapat mendorong penderitanya mengambil keputusan impulsif atau berisiko, sementara fase depresi dapat menyebabkan gangguan tidur, kelelahan ekstrem, serta kesulitan berkonsentrasi. Perubahan suasana hati yang drastis ini dapat mengganggu fungsi sosial dan produktivitas apabila tidak ditangani secara tepat.

Menurut WHO, penyebab gangguan bipolar belum sepenuhnya dipahami. Namun, faktor biologis, genetik, serta tekanan lingkungan dapat berperan dalam perkembangannya. Stres berat juga diketahui dapat memicu kekambuhan pada individu yang rentan.

Meskipun bersifat jangka panjang, gangguan bipolar dapat dikelola melalui perawatan yang tepat. Penanganan biasanya melibatkan kombinasi obat penstabil suasana hati dan terapi psikologis untuk membantu mengontrol gejala dan mencegah kekambuhan.

WHO menekankan pentingnya deteksi dini, akses layanan kesehatan mental, serta dukungan sosial bagi penyintas gangguan bipolar. Dengan pengobatan yang konsisten dan pendampingan yang memadai, banyak individu dengan gangguan bipolar dapat menjalani kehidupan yang stabil dan produktif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....