Cegah Nipah dari Lingkungan Sekitar

  • 11 Feb 2026 20:11 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Munculnya kembali laporan kasus virus Nipah di sejumlah negara Asia menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan berbasis pencegahan di tingkat masyarakat. Edukasi mengenai sumber penularan dan perilaku aman dinilai menjadi kunci utama, mengingat hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk penyakit tersebut.

Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni ditularkan dari hewan ke manusia. Virus ini pertama kali teridentifikasi pada 1998 dalam wabah di Malaysia.

“Virus Nipah ini virus lama yang pernah muncul tahun 1998. Ini zoonosis, ditularkan dari hewan ke manusia,” ujarnya saat menjadi narasumber Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Rabu, 11 Februari 2026.

Ia menegaskan, hingga saat ini reservoir utama yang teridentifikasi adalah kelelawar buah dari genus Pteropus, sementara dalam sejumlah kejadian wabah, babi berperan sebagai hewan perantara yang menularkan ke manusia.

“Penularannya terjadi oleh hewan kelelawar dan juga babi. Belum ada temuan lain yang menyebutkan hewan lain bisa menularkan virus ini,” jelasnya.

Penularan dapat terjadi ketika manusia kontak dengan cairan tubuh hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun pangan yang terpapar. Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada terhadap produk konsumsi, khususnya buah.

“Kalau menjumpai buah yang sudah dimakan kelelawar, sebaiknya dibuang. Jangan dikonsumsi karena bisa tercampur air liur atau kotoran kelelawar,” tegas Laura.

Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti memastikan buah dalam kondisi utuh dan mencucinya sebelum dikonsumsi menjadi langkah pencegahan penting, terutama di wilayah yang memiliki populasi kelelawar buah tinggi.

Selain itu, penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) juga dinilai krusial untuk menekan risiko penularan, termasuk menjaga kebersihan tangan, lingkungan, serta menghindari kontak langsung dengan satwa liar.

Laura menambahkan, meski karakter virus Nipah disebut memiliki kemiripan dengan COVID-19 karena sama-sama dapat menyerang sistem pernapasan dan menular melalui droplet, tingkat penularannya tidak semudah COVID-19.

“Memang tidak semudah COVID-19 penularannya, tapi tetap harus diwaspadai karena tingkat kefatalannya cukup tinggi,” ujarnya.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian akibat Nipah berkisar 40 hingga 75 persen, tergantung pada kecepatan deteksi dan kapasitas layanan kesehatan.

Gejala awal infeksi meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan radang tenggorokan. Pada kondisi berat, virus dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Masa inkubasi penyakit ini umumnya berada pada rentang 4 hingga 14 hari. Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala, terlebih bila memiliki riwayat kontak berisiko.

“Belum ada vaksin dan belum ada obat khusus. Jadi pencegahan menjadi kunci utama agar penularan bisa ditekan,” kata Laura.

Ia pun mengingatkan bahwa kewaspadaan tidak harus menimbulkan kepanikan, melainkan mendorong perilaku hidup sehat dan kehati-hatian dalam mengonsumsi pangan.

Dengan memahami sumber penularan serta langkah pencegahannya, masyarakat diharapkan mampu melindungi diri sekaligus meminimalkan risiko penyebaran virus Nipah sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....