Gubes UNAIR Soroti Gangguan Perkembangan Syaraf Anak Sekolah

  • 01 Feb 2026 19:01 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Gangguan perkembangan saraf pada anak usia sekolah memerlukan perhatian serius. Guru Besar Fakultas Kedokteran UNAIR Prof Yunias Setiawati menyebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sebagai gangguan neurodevelopmental multifaktorial.

Gejala ADHD umumnya muncul sebelum usia 12 tahun. Secara global, prevalensi ADHD pada anak usia sekolah diperkirakan mencapai 5–10 persen. 

Kondisi ini dapat berlanjut hingga remaja bahkan dewasa. “ADHD berdampak pada fungsi akademik, sosial, dan pekerjaan anak hingga dewasa,” ujar Prof Yunias, Minggu, 1 Februari 2026.

Ia menjelaskan ADHD berkaitan dengan faktor genetik, epigenetik, dan lingkungan. Kombinasi faktor tersebut memengaruhi sistem neurotransmiter otak.

“Gangguan belajar, kecanduan gim, cemas, hingga depresi sering berkaitan dengan ADHD tidak tertangani,” ujarnya. Yunias menambahkan kesehatan ibu saat kehamilan turut berperan, terutama ketika terjadi infeksi. 

Infeksi maternal berdampak pada kesehatan fisik dan mental anak. “Faktor epigenetik memengaruhi perkembangan otak dan fungsi kognitif anak,” katanya.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini melalui identifikasi faktor risiko biologis dan lingkungan. Pendekatan dilakukan melalui wawancara, observasi, hingga pemeriksaan laboratorium.

Yunias menekankan agar pola hidup sehat dijalankan untuk mencegah dampak ADHD. “Deteksi dini dan gaya hidup sehat dapat mencegah dampak ADHD jangka panjang,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....