Dosen FK Ubaya: GERD Bukan Pemicu Serangan Jantung
- 28 Jan 2026 18:53 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Ramai di media sosial mengenai GERD (Gastroesophageal reflux disease) tidak menyebabkan penyakit jantung. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Jordan Bakhriansyah, Sp.JP. membenarkan, bahwa GERD tidak menyebabkan serangan jantung secara instan.
Keada RRI Surabaya pada Rabu, 28 Januari 2026, dr. Jordan menjelaskan GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung. Namun, bisa meningkatkan risiko gejala serangan jantung.
"Terdapat dua organ yang berbeda, namun tetap terhubung karena berada dalam satu tubuh yang sama," jelasnya.
Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu menguraikan, GERD dapat meningkatkan risiko gangguan jantung apabila didukung oleh berbagai faktor risiko. Misalnya, GERD yang ditandai oleh inflamasi di lambung dapat meningkatkan tekanan darah karena saraf simpatik bekerja lebih keras.
Dampaknya, detak jantung menjadi lebih cepat dan memicu respons tubuh yang lebih sensitif. Apabila berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama dan didukung oleh faktor risiko, jantung dapat mengalami pembengkakan dan menimbulkan serangan atau gagal jantung.
"Namun, hal tersebut membutuhkan waktu dengan alur yang beragam. Tidak ada penderita GERD akut yang langsung mengalami gagal jantung dalam jangka waktu singkat," tegas dr. Jordan.
Oleh sebab itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah itu menentang keras diagnosis gangguan kesehatan yang seringkali tidak melibatkan prosedur pemeriksaan medis yang baku, termasuk asosiasi GERD dengan serangan jantung. Kesamaan profil yang seringkali didapati pada pasien GERD dan gangguan jantung tidak menjadi dasar pengambilan kesimpulan yang akurat.
"Oleh sebab itu, ketika terdapat gejala serupa, khususnya nyeri pada bagian dada, penegakan diagnosis harus dilakukan di fasilitas kesehatan melalui anamnesis dan rangkaian pemeriksaan khusus," katanya.
Terakhir, dr. Jordan mendorong masyarakat agar segera mendatangi tenaga medis profesional terdekat apabila muncul gejala dan gangguan kesehatan. Dengan demikian, tidak ada pasien yang melakukan diagnosis secara mandiri, sehingga pemburukan kondisi dan penanganan yang tidak tepat dapat dihindari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....