Gubes ITS: Marina, Tempat Bersandar Yacht, Jadi Peluang Ekonomi Baru
- 09 Sep 2026 21:01 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Marina, tempat khusus kapal wisata seperti yacht untuk bersandar, dinilai berpotensi menjadi penggerak wisata bahari dan ekonomi pesisir Indonesia. Dosen Teknologi Kelautan ITS, Prof. Haryo Dwito Armono, mengatakan Indonesia berada di jalur pelayaran yacht internasional, dengan banyak kapal melintas dari Australia menuju Singapura, Thailand, maupun wilayah Indonesia dan membutuhkan tempat persinggahan.
"Kita mencoba menyiapkan tempat-tempat untuk para pemilik kapal supaya bisa masuk dan berlabuh," ujar Haryo, Rabu, 9 September 2026.
Menurutnya, penambahan marina akan memberikan lebih banyak pilihan bagi kapal-kapal tersebut untuk bersandar. Dengan semakin banyak titik persinggahan, pelayaran yacht di perairan Indonesia dapat berlangsung lebih mudah.
"Kita ingin memperbanyak itu dan kapal bisa bergerak, sehingga kegiatan pelayaran menjadi lebih mudah," katanya.
Keberadaan marina tidak hanya menyediakan tempat bagi yacht untuk berhenti. Kapal yang bersandar juga membawa peluang bagi kegiatan ekonomi di sekitarnya, mulai dari jasa perawatan kapal, penginapan, restoran, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.
Haryo menilai semakin banyak marina dibuka di berbagai wilayah, semakin besar pula peluang masyarakat pesisir memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas wisata bahari.
"Kalau bisa dibuka pelabuhan satu, maka ekonomi bisa berkembang dan kegiatan itu tidak terlalu berisiko tinggi," ujarnya.
Sebelum pandemi COVID-19, sekitar 2.000 yacht melintasi perairan Indonesia setiap tahun. Pandemi menyebabkan jumlah kunjungan yacht menurun drastis. Namun, aktivitas tersebut kini mulai berangsur pulih.
Saat ini, sekitar 1.000 yacht setiap tahun melintasi dan bersandar di sejumlah pelabuhan Indonesia. Pembukaan kembali pintu laut di Bali, Batam, dan Bintan turut mendorong pemulihan kunjungan yacht.
Ketersediaan marina dinilai menjadi salah satu kunci pengembangan wisata bahari. Selain menarik wisatawan, aktivitas marina berpotensi menciptakan lapangan kerja, menggerakkan UMKM, meningkatkan devisa negara, serta menambah Pendapatan Asli Daerah.
Pengembangan ekosistem marina juga mulai mendapat perhatian dari perguruan tinggi dan pelaku industri.
ITS dan SF Marina Indonesia sebelumnya menandatangani Memorandum of Understanding pada 22 September 2025. Kerja sama tersebut mencakup penelitian terapan, pengembangan infrastruktur, pelatihan sumber daya manusia, serta penyusunan standar marina.
Di Teluk Benoa, Bali, SF Marina Indonesia membangun marina dengan kapasitas sekitar 180 yacht. ITS turut terlibat dalam perencanaan pembangunan pelabuhan marina tersebut.
Komitmen pengembangan riset juga diwujudkan melalui International Workshop Desain Marina Indonesia di kampus ITS. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 9 hingga 10 September 2026.
Workshop tersebut membahas desain, teknologi, regulasi, hingga pengembangan ekosistem industri marina Indonesia.
Haryo mengatakan pembangunan marina membutuhkan dukungan regulasi sekaligus ekosistem yang mampu mengakomodasi kebutuhan pemilik kapal pribadi.
"Kalau infrastrukturnya tersedia, kapal-kapal bisa singgah dan kegiatan ekonomi masyarakat juga ikut berkembang," katanya.
Menurutnya, pengembangan marina tidak hanya menyasar wisatawan asing. Aktivitas boating domestik juga dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Karena itu, pengembangan marina membutuhkan dukungan menyeluruh. Bukan hanya tempat kapal bersandar, tetapi juga layanan yang mendukung seluruh siklus kepemilikan dan penggunaan kapal, mulai dari pembelian, kepemilikan, asuransi, pembiayaan, tempat bersandar, perawatan, hingga aktivitas pelayaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....