Mahasiswa ITS Desain Terminal Kapal Pesiar Bernuansa Bali

  • 01 Sep 2026 15:58 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Area keberangkatan kapal pesiar menjadi bagian penting dalam menentukan pengalaman penumpang selama perjalanan. Mahasiswa Departemen Desain Interior ITS merancang interior Benoa Cruise Terminal dengan konsep Balinese Contemporary Getaway.

Penggagas desain, Usep Sopian, menilai terminal penumpang konvensional masih menghadapi sejumlah tantangan dalam memberikan pengalaman terbaik. Alur sirkulasi yang kurang intuitif dan ruang tunggu monoton berpotensi meningkatkan kejenuhan penumpang selama menunggu keberangkatan.

“Saya ingin ruang transit menjadi bagian dari pengalaman perjalanan penumpang,” ujar mahasiswa angkatan 2022 tersebut, Selasa, 1 September 2026. Menurut Usep, pengalaman penumpang tidak hanya dipengaruhi kenyamanan ruang, tetapi juga kesan selama berada di terminal.

Area keberangkatan menjadi ruang terakhir yang berpotensi melekat dalam ingatan wisatawan sebelum meninggalkan daerah tujuan wisata. “Desain interior itu adalah first and last impression bagi wisatawan,” ucap mahasiswa asal Sukabumi tersebut.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Usep menerapkan pendekatan neo-vernakular dengan sentuhan kontemporer pada rancangan interior terminal. Pendekatan itu mengadaptasi esensi arsitektur Bali melalui material lokal, pola geometris tradisional, dan proporsi ruang modern.

“Nuansa Bali tetap terasa, tetapi tampil dengan lebih modern dan elegan,” katanya. Rancangan tersebut juga menerapkan konsep human-centered design untuk meningkatkan kenyamanan dan pengalaman penumpang selama berada di terminal.

Usep menyusun zoning, sirkulasi, pencahayaan, pemilihan material, hingga area komunal berdasarkan kebutuhan pengguna. Area keberangkatan diharapkan tidak lagi sekadar menjadi ruang menunggu, melainkan bagian dari pengalaman wisatawan.

Penumpang dapat menikmati waktu tunggu dengan suasana lebih rileks sebagai kelanjutan pengalaman berwisata di Bali. Dalam proses perancangan, Usep mengombinasikan studi literatur mengenai standar terminal internasional dan regulasi maritim.

Ia juga melakukan observasi terhadap berbagai referensi cruise terminal dari berbagai negara di dunia. Hasil kajian kemudian disesuaikan dengan karakteristik Pelabuhan Benoa dan budaya lokal Bali.

Penyesuaian tersebut dilakukan untuk menghasilkan rancangan yang selaras dengan karakter kawasan dan standar fasilitas internasional. Usep berharap konsep tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik semata, tetapi dapat diterapkan lebih luas.

Pendekatan yang menekankan pengalaman penumpang dan identitas lokal diharapkan menjadi rujukan pengembangan fasilitas publik Indonesia. “Terminal bukan hanya tempat keberangkatan, tetapi bagian dari perjalanan yang perlu memberikan pengalaman berkesan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....