Lantik Dokter Baru, Rektor Unusa Tekankan Integritas Dokter di Era AI

  • 14 Agt 2026 20:56 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kembali melantik dan mengambil sumpah dokter baru Fakultas Kedokteran (FK) Unusa. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi kesehatan, para dokter baru diminta tidak hanya menguasai kompetensi klinis, tetapi juga menjunjung integritas, adab, dan empati.

Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono mengatakan sumpah dokter bukan sekadar formalitas untuk memenuhi persyaratan profesi, melainkan janji moral yang harus melekat sepanjang perjalanan pengabdian. Ia menegaskan profesi dokter harus ditempatkan sebagai panggilan kemanusiaan dan dijalankan dengan akhlak serta kepedulian terhadap pasien.

“Profesi dokter harus kalian dudukkan sebagai sebuah panggilan kemanusiaan, bukan alat mengejar materi semata,” ujar Tri Yogi, dalam siaran pers, Jumat 14 Agustus 2026.

Tri Yogi menilai pesan tersebut semakin penting di tengah tantangan pelayanan kesehatan dan persoalan etika di ruang digital. Ia menyinggung kasus almarhum Yurizal Tri Chaerawan sebagai refleksi bagi dunia kesehatan agar dokter tetap menjaga nurani, adab, dan empati saat melayani maupun berkomunikasi di media sosial.

“Kejadian memilukan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Saya haramkan perbuatan nirempati itu keluar dari jari atau lisan seorang dokter lulusan Unusa,” tegas Tri Yogi.

Ia kemudian menitipkan enam karakter yang harus melekat pada dokter lulusan Unusa, yakni integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan menghormati sesama. Menurutnya, dokter harus mampu memahami kondisi pasien yang datang dengan rasa sakit, takut, dan cemas serta memberikan pelayanan tanpa membedakan latar belakang.

“Pasien adalah amanah kudus, bukan beban. Karena itu, berikan pelayanan secara adil tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi pasien,” ujarnya.

Di sisi lain, Tri Yogi mengingatkan para dokter baru bahwa dunia kedokteran berkembang pesat melalui AI, telemedicine, genomik, big data, dan berbagai teknologi kesehatan. Ia meminta teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan tanpa menghilangkan sentuhan kemanusiaan serta mendorong para dokter menjadi pembelajar sepanjang hayat.

“Teknologi medis akan terus berubah, penyakit baru akan terus muncul, namun esensi kemanusiaan dari seorang dokter tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” ujarnya.

Tri Yogi juga meminta dokter baru yang akan menjalani program internship dan mengabdi di berbagai fasilitas kesehatan untuk menjaga nama baik almamater. Ia berharap para dokter menunjukkan prestasi, dedikasi, dan akhlakul karimah, sekaligus menjadikan keterbatasan sistem pelayanan bukan alasan untuk melampiaskan kekecewaan kepada pasien.

“Di mana pun kalian ditempatkan, jaga nama baik almamater Unusa. Kibarkan bendera Unusa melalui prestasi, dedikasi, dan akhlakul karimah yang kalian tunjukkan kepada masyarakat,” pesannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....