Mengapa Nasi Begitu Sulit Ditinggalkan?
- 15 Agt 2026 07:11 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bagi banyak orang Indonesia, makan rasanya belum lengkap kalau belum ada nasi. Lauk sudah tersedia, sayur sudah ada, tetapi tanpa nasi, sebagian orang masih merasa belum benar-benar makan. Kebiasaan itu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sarapan, makan siang, hingga makan malam, nasi masih menjadi bagian penting dari menu masyarakat Indonesia.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan, konsumsi beras masyarakat Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 87,3 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya posisi beras dalam pola konsumsi pangan masyarakat. Lantas, mengapa nasi begitu sulit ditinggalkan?
Salah satu jawabannya adalah karena beras sudah lama menjadi pangan pokok masyarakat Indonesia. Nasi bukan hanya makanan yang hadir di meja makan, tetapi juga sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Badan Pangan Nasional menyebut beras sebagai pangan pokok utama masyarakat Indonesia dengan tingkat konsumsi yang tinggi.
"Beras dipilih sebagai media fortifikasi karena merupakan pangan pokok utama masyarakat Indonesia dengan tingkat konsumsi yang tinggi," demikian keterangan Badan Pangan Nasional dalam pembahasan mengenai beras fortifikasi.
Kebiasaan makan nasi juga tidak berdiri sendiri. Cara masyarakat menyiapkan makanan, memilih lauk, hingga menentukan waktu makan telah lama menjadikan nasi sebagai bagian dari menu sehari-hari.
Tak heran jika ketika seseorang mengatakan "sudah makan?", yang terbayang sering kali bukan sekadar makanan secara umum, tetapi pertanyaan yang secara tidak langsung berkaitan dengan sudah makan nasi atau belum. Menariknya, di tengah perubahan gaya hidup dan semakin beragamnya pilihan makanan, posisi nasi tetap kuat.
Badan Pangan Nasional mencatat konsumsi beras masih berada pada tingkat yang tinggi dalam pola konsumsi pangan nasional. Pemerintah pun terus mendorong penganekaragaman pangan agar masyarakat memiliki pilihan makanan yang lebih beragam. Namun, keberagaman pangan bukan berarti masyarakat harus meninggalkan nasi.
Nasi tetap menjadi bagian dari pola makan masyarakat Indonesia. Sementara itu, pilihan pangan lainnya dapat melengkapi menu sesuai kebutuhan, ketersediaan, dan kebiasaan di masing-masing daerah. Jadi, jika sampai sekarang nasi masih sulit ditinggalkan, sebenarnya bukan sesuatu yang mengherankan.
Beras sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun. Bahkan, bagi sebagian orang, makan tanpa nasi terasa seperti ada sesuatu yang kurang.
Pada akhirnya, pertanyaannya mungkin bukan lagi "mengapa kita masih makan nasi?", tetapi "mengapa nasi begitu melekat dalam kehidupan kita?". Jawabannya tidak hanya ada di piring. Ada kebiasaan, budaya makan, dan sejarah panjang yang membuat nasi tetap menjadi bagian penting dari meja makan masyarakat Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....