Gubes ITS Hadirkan Inovasi Pembangkit Energi Terbarukan

  • 10 Agt 2026 22:54 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Guru Besar Departemen Teknik Fisika ITS Prof. Dr. Ir. Imam Abadi menggagas pembangkit listrik hybrid cerdas. Sistem tersebut menggabungkan tenaga surya dan angin sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan.

Inovasi ini lahir dari keprihatinan terhadap krisis energi fosil serta keterbatasan listrik kawasan terpencil. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan melimpah melalui sinar matahari dan embusan angin sepanjang tahun.

“Indonesia kaya akan ladang angin dan sinar matahari yang konsisten sepanjang tahun,” ujar Imam, Senin, 10 Agustus 2026 Menurutnya, kombinasi kedua sumber energi tersebut dipilih sebagai penyokong utama sistem energi terbarukan.

Sistem ini menerapkan prinsip komplementaritas energi untuk menjaga kontinuitas pasokan listrik harian. Pada siang hari, panel surya bekerja optimal menyerap energi matahari untuk menghasilkan listrik.

Memasuki malam hari, turbin angin mengambil alih peran sebagai generator utama sistem. Turbin angin vertikal berbentuk spiral mampu menghasilkan listrik meski hanya diterpa angin sepoi-sepoi.

Model helix savonius dipilih karena memiliki batas kecepatan awal putar yang sangat rendah. “Kelebihan turbin jenis ini adalah sistem cut in speed-nya yang rendah,” kata Imam.

Menurutnya, generator sudah mampu berputar stabil ketika kecepatan angin mencapai 2,5 meter per sekon. Keunggulan lainnya terletak pada sistem penjejak matahari cerdas atau solar tracker.

Teknologi tersebut membuat panel surya bergerak otomatis mengikuti pergerakan matahari. Sistem ini membantu panel menyerap energi matahari secara optimal sepanjang waktu.

Teknologi tersebut juga mampu mendeteksi perubahan cuaca secara otomatis menggunakan sistem kendali cerdas. “Ketika langit mendadak mendung atau tertutup awan tebal, alat ini akan langsung mengalihkan mode,” ujar Imam.

Sistem kemudian menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan posisi panel surya secara optimal. “Kendali cerdas akan otomatis mengalihkan sistem ke soft sensor berbasis perhitungan astronomi," ucapnya.

Pengujian lapangan menunjukkan sistem tersebut mampu meningkatkan efisiensi listrik hingga 25,12 persen. Inovasi ini mendukung target Sustainable Development Goals, khususnya energi bersih dan konsumsi bertanggung jawab.

Imam berharap teknologi tersebut dapat dikembangkan menjadi stasiun pengisian daya mandiri berbasis energi terbarukan. Fasilitas itu nantinya dapat digunakan masyarakat untuk mengisi baterai kendaraan listrik dan alat pertanian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....