Guru Besar ITS Ciptakan Teknologi Pengolah Limbah

  • 24 Jul 2026 05:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Guru Besar ke-250 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Eng. Kusdianto, ST., MSc. Eng., mengembangkan komposit seng oksida (ZnO) untuk pengolahan limbah cair ramah lingkungan. Inovasi ini mendukung penyediaan air bersih berkelanjutan melalui teknologi fotokatalitik.

Menurut Kusdianto, pencemaran perairan akibat limbah domestik dan industri memicu penumpukan polutan organik berbahaya. "Pengolahan yang tidak optimal menyebabkan akumulasi zat beracun di perairan tidak dapat didegradasi dengan baik," ujarnya.

Ia menjelaskan pengolahan limbah konvensional belum mampu menguraikan seluruh polutan organik secara efektif. Karena itu, fotokatalis memanfaatkan cahaya dan material semikonduktor menjadi alternatif pengolahan limbah.

Kusdianto mengatakan material ZnO dan TiO2 memiliki keterbatasan akibat rekombinasi elektron yang berlangsung sangat cepat. "Penggabungan ZnO dengan perak dapat menekan rekombinasi sehingga meningkatkan kemampuan degradasi," katanya, Kamis, 23 Juli 2026.

Untuk mengatasinya, tim ITS menerapkan metode flame spray pyrolysis dan spray pyrolysis dalam sintesis material. "Metode ini memungkinkan pengaturan temperatur reaktor serta morfologi partikel selama proses berlangsung,"katanya.

Ia memilih seng oksida sebagai bahan utama karena melimpah, ramah lingkungan, dan dapat disintesis menggunakan ekstrak tumbuhan. Proses green synthesis memanfaatkan senyawa fenolik alami sebagai agen reduktor sekaligus penstabil material.

Kusdianto menjelaskan komposit ZnO dengan kandungan perak lima persen menghasilkan degradasi limbah paling optimal sekaligus bersifat antibakteri. "Spesies oksidatif aktif merusak dinding sel bakteri hingga kuman mati," ucapnya.

Ia menambahkan teknologi tersebut mampu menguraikan polutan menjadi air dan karbon dioksida tanpa bahan kimia berbahaya. "Proses pengolahan limbah tidak menghasilkan limbah tambahan selama berlangsung," ujarnya.

Selain pengolahan limbah cair, Kusdianto mengembangkan material tersebut sebagai filter penyerap gas beracun pada pembangkit listrik. "Sistem ini memastikan emisi udara dan air memenuhi baku mutu lingkungan," katanya.

Kusdianto mengungkapkan uji lapangan menunjukkan efisiensi degradasi polutan mencapai 100 persen menggunakan sinar matahari. Ia juga memperkuat riset melalui kolaborasi dengan Hiroshima University untuk mendukung ITS menuju World Class University.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....