Mahasiswa Ciputra Hadirkan Fesyen Berkelanjutan dari Limbah Batik
- 09 Jun 2026 21:31 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Pemanfaatan limbah tekstil menjadi produk bernilai tinggi kembali ditunjukkan mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya melalui karya fesyen inovatif. Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya, Muhammad Atho’illah, menghadirkan koleksi streetwear yang terinspirasi dari budaya skena hip hop lokal.
Menariknya, koleksi tersebut memanfaatkan limbah deadstock kain batik sebagai material utama dalam proses kreatifnya. Melalui kolaborasi dengan Omah Batik Pina Pinu, Atho’illah mengolah sisa-sisa kain batik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.
Material tersebut kemudian diubah menjadi elemen fesyen bernilai ekonomi melalui teknik patchwork dan applique. “Pemanfaatan limbah deadstock kain batik, untuk menghasilkan tekstur yang unik sekaligus memberikan nilai tambah pada material yang sebelumnya tidak terpakai,” ujarnya, Selasa, 9 Juni 2026.
Koleksi yang ditampilkan mengadopsi karakter khas komunitas hip hop lokal. Mulai dari celana sagging, denim gombrong, gaya berpakaian berlapis, hingga penggunaan aksesori yang mencolok.
Unsur-unsur tersebut dipadukan dengan motif batik. Hal itu dilakukan untuk menghasilkan tampilan streetwear yang modern dan relevan bagi generasi muda.
Menurut Atho’illah, penggunaan limbah kain batik bukan hanya bertujuan menciptakan desain yang berbeda. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung praktik fesyen berkelanjutan dengan mengurangi potensi limbah tekstil.
Koleksi ini menunjukkan bahwa material sisa produksi batik masih memiliki peluang besar untuk diolah menjadi produk kreatif yang memiliki daya saing tinggi. Selain mengurangi limbah, pendekatan tersebut juga mampu memperpanjang siklus hidup kain batik.
Fenomena budaya skena yang berkembang di kalangan anak muda turut menjadi inspirasi utama koleksi tersebut. Fashion dinilai penting untuk membangun identitas, menunjukkan afiliasi komunitas, serta mengekspresikan nilai-nilai yang diyakini generasi muda.
Dalam konteks yang lebih luas, budaya skena tidak hanya berbicara mengenai gaya berpakaian. Fenomena ini juga mencerminkan dinamika kehidupan urban, kreativitas kolektif, serta pertemuan antara pengaruh budaya global dan kearifan lokal Indonesia.
Tidak hanya menghadirkan dampak lingkungan, proyek ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Kolaborasi dengan perajin batik membuka peluang peningkatan nilai jual limbah kain sekaligus mendukung keberlangsungan UMKM batik di daerah.
Melalui inovasi tersebut, Muhammad Atho’illah membuktikan bahwa limbah kain batik dapat diubah menjadi produk fesyen modern yang diminati pasar. Karya ini memperlihatkan bagaimana keberlanjutan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi lokal dapat berjalan beriringan dalam industri fesyen masa kini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....