Gubes UC: Pasar Wisata Butuh Identitas, Bukan Sekadar Renovasi Fisik
- 10 Mei 2026 21:44 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Ribuan pasar tradisional dan desa wisata di Indonesia dinilai belum memiliki identitas ruang yang kuat. Kondisi ini membuat banyak destinasi terlihat serupa dan sulit bersaing menarik wisatawan.
Guru Besar Universitas Ciputra, Prof. Dr. Astrid Kusumowidagdo, mengatakan persoalan utama pengembangan destinasi terletak pada lemahnya keunikan ruang wisata.
“Banyak ruang komersial tradisional berkembang, tetapi belum memiliki identitas jelas,” ujar Astrid, Minggu, 10 Mei 2026.
Melalui penelitian “Discovering the Soul of Space”, Astrid menekankan pentingnya pengembangan ruang wisata yang memadukan unsur ruang, aktivitas, dan budaya lokal.
Menurutnya, Indonesia memiliki lebih dari 16 ribu pasar tradisional. Namun, baru sebagian yang berkembang menjadi pasar wisata berkarakter kuat.
Tantangan serupa juga dihadapi sekitar tujuh ribu desa wisata. Banyak desa wisata belum memiliki produk kreatif maupun pengalaman khas yang membedakannya dari destinasi lain.
Astrid mencontohkan Pasar Ubud, Malioboro, dan Pasar Terapung Lok Baintan sebagai ruang wisata yang memiliki karakter autentik.
“Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat, tetapi juga pengalaman,” katanya.
Ia menilai pengalaman wisata tidak lahir hanya dari desain fisik, melainkan dari interaksi manusia, cerita lokal, serta aktivitas budaya yang hidup di ruang tersebut.
Karena itu, pengembangan pasar tradisional dan desa wisata tidak cukup dilakukan melalui renovasi bangunan. Penguatan narasi, identitas lokal, dan pengalaman pengunjung juga menjadi kunci.
“Keunikan tempat adalah aset terbesar kita. Di situlah nilai pariwisata Indonesia terbentuk,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....