Melayani Jamaah Haji Demi Pahala

  • 14 Mei 2026 12:15 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di balik hiruk pikuk keberangkatan calon jamaah haji menuju Tanah Suci, terdapat para petugas yang bekerja tanpa banyak sorotan demi memastikan seluruh proses berjalan lancar. Salah satunya adalah petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH).

Embarkasi Asrama Haji Kelas I Surabaya yang bertugas membantu kebutuhan jamaah sejak tiba di asrama hingga siap diberangkatkan. Mereka bekerja mengikuti padatnya jadwal kedatangan jamaah dari berbagai daerah di Jawa Timur, NTT, hingga Bali.

Salah seorang petugas tersebut adalah M. Muwafiq Naufal Ibrahim, pemuda berusia 26 tahun yang sehari-hari berprofesi sebagai peternak lele. Di sela pekerjaannya mengelola usaha ternak lele, ia memilih bergabung menjadi petugas haji demi mendapatkan pengalaman sekaligus melayani tamu Allah.

“Motivasi saya ikut menjadi petugas haji karena ingin melayani tamu Allah dan mencari pahala,” ujar Muwafiq saat ditemui di Asrama Haji Surabaya.

Dalam penyelenggaraan haji tahun ini, Muwafiq bertugas di divisi jaskut atau jasa angkut. Ia bersama timnya membantu membawa koper kecil milik calon jamaah haji dari bus menuju kamar penginapan setibanya di embarkasi.

“Tugas kami mengangkat koper kecil jamaah dari bus sampai ke kamar. Fokus kami di kedatangan jamaah,” katanya.

Jadwal kerja para petugas tidak mengenal sistem shift tetap. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal kedatangan kloter dari berbagai kabupaten dan kota. Dalam satu kloter terdapat sekitar 380 calon jamaah haji, sementara dalam satu waktu kedatangan bisa mencapai lima kloter sekaligus.

“Kami mengikuti jadwal kedatangan jamaah hingga tengah malam,” ungkapnya.

Muwafiq bekerja dalam satu tim beranggotakan 20 orang. Meski baru pertama kali menjadi petugas haji, ia mengaku harus cepat beradaptasi dengan ritme kerja yang cukup padat, terutama ketika banyak kloter tiba secara bersamaan.

“Kalau kloter datang bersamaan memang kewalahan, apalagi barang jamaah sangat banyak. Tapi kami tetap berusaha melayani semaksimal mungkin,” tuturnya.

Tantangan juga datang dari kondisi cuaca yang tidak menentu. Saat hujan turun, para petugas tetap bekerja mengarahkan dan membantu jamaah dengan fasilitas payung yang telah disediakan pihak embarkasi.

“Pernah hujan deras saat jamaah datang malam hari, tapi kami difasilitasi payung jadi tetap bisa membantu jamaah masuk ke asrama,” jelasnya.

Padatnya aktivitas sempat membuat Muwafiq mengalami demam. Namun ia bersyukur pihak embarkasi menyediakan layanan kesehatan bagi seluruh petugas yang mengalami gangguan kondisi fisik selama masa operasional haji berlangsung.

“Saya sempat sakit demam karena capek, tapi ada fasilitas klinik dari embarkasi jadi bisa langsung ditangani,” katanya.

Dalam menjalankan tugas, petugas jaskut juga kerap menemukan barang milik jamaah yang tercecer atau terjatuh. Barang-barang tersebut kemudian diserahkan ke resepsionis agar mudah ditemukan kembali oleh pemiliknya.

“Kalau ada barang jamaah yang jatuh, langsung kami serahkan ke resepsionis supaya nanti bisa dicari jamaah yang kehilangan,” ujar Muwafiq.

Menurutnya, pengalaman menjadi petugas haji memberikan kesan tersendiri. Selain mendapat pengalaman baru, ia juga merasa bahagia ketika jamaah merasa terbantu. Tidak jarang, beberapa calon jamaah haji memberikan tips sebagai bentuk apresiasi kepada petugas.

“Terkadang ada jamaah yang kasih tips karena merasa terbantu. Tapi yang paling penting buat saya adalah bisa ikut membantu kelancaran ibadah mereka,” katanya.

Sementara itu, proses perekrutan petugas penyelenggara ibadah haji di Embarkasi Surabaya dilakukan melalui dua jalur, yakni outsourcing dan PPIH Embarkasi Surabaya yang surat keputusannya diterbitkan Kanwil Kementerian Agama. Masa kerja petugas berlangsung selama dua bulan dengan batas usia pendaftar antara 17 hingga 35 tahun. Rekrutmen biasanya dimulai pada awal April setiap tahunnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....