Tren Pendakian Tektok Meningkat, Keselamatan Pendaki Jangan Diabaikan

  • 18 Jul 2026 17:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Minat masyarakat terhadap wisata alam, khususnya pendakian gunung, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang kini banyak diminati ialah pendakian tektok, yakni aktivitas mendaki dan turun gunung dalam satu hari tanpa bermalam.

Selain dinilai lebih praktis, pendakian tektok juga banyak dipilih untuk mengabadikan keindahan alam melalui foto maupun video yang kemudian dibagikan di media sosial. Namun, meningkatnya tren tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai keselamatan selama melakukan pendakian.

Founder Komunitas Anak Pelestari Alam Kids Rover, Rudy Kukuh Styawan, mengingatkan bahwa pendakian tektok tetap memiliki risiko sehingga tidak boleh dilakukan hanya karena mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO). Menurutnya, setiap pendaki, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, wajib membekali diri dengan pengetahuan, kondisi fisik yang prima, serta perlengkapan yang memadai sebelum melakukan pendakian.

"Pendakian tektok memang hanya dilakukan dalam satu hari, tetapi bukan berarti lebih mudah. Persiapan fisik, pengetahuan, dan perlengkapan tetap menjadi syarat utama agar pendakian berlangsung aman. Jangan hanya karena ingin mendapatkan foto atau video yang bagus, lalu mengabaikan aspek keselamatan," ujarnya dalam Dialog Aspirasi RRI Surabaya, Sabtu 18 Juli 2026.

Rudy menjelaskan, setiap pendaki perlu menerapkan konsep empat sadar sebagai bekal utama sebelum melakukan pendakian. Pertama, sadar batasan, yakni mengenali kemampuan fisik diri, memahami kondisi cuaca, akses transportasi, jaringan komunikasi, hingga memahami potensi gangguan kesehatan yang dapat muncul selama pendakian.

Kedua, sadar perlengkapan, dengan memastikan seluruh peralatan pendakian dan logistik sesuai standar serta mencukupi kebutuhan perjalanan. Ketiga, sadar kawasan, yaitu memahami karakteristik jalur pendakian, tingkat kesulitan gunung, serta aturan yang berlaku di kawasan konservasi.

Terakhir, sadar lingkungan, yakni menjaga kelestarian alam, menghormati masyarakat sekitar, serta memegang nilai-nilai yang berlaku selama berada di kawasan pendakian.

Menurut Rudy, pendakian tektok tetap dapat dilakukan oleh pendaki pemula, termasuk orang tua yang ingin mengenalkan aktivitas mendaki kepada anak-anak. Namun, ia menyarankan agar pendaki memilih gunung sesuai tingkat kesulitan jalurnya.

Gunung dengan jalur Grade 1 dinilai lebih sesuai bagi pemula sebelum mencoba jalur dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

"Banyak orang mengejar foto atau video yang bagus. Padahal tujuan utama pendakian adalah pulang dengan selamat. Alam juga harus tetap dijaga agar bisa dinikmati generasi berikutnya," tegasnya.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan wisata berbasis alam (nature-based tourism) menjadi salah satu sektor yang terus dikembangkan karena memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan. Pendakian gunung pun menjadi bagian dari wisata minat khusus yang terus diminati masyarakat.

Sejalan dengan itu, berbagai pengelola kawasan konservasi terus mengimbau pendaki untuk mematuhi prosedur keselamatan, menggunakan perlengkapan sesuai standar, serta tidak memaksakan diri mendaki ketika kondisi cuaca maupun kesehatan tidak memungkinkan.

Rudy berharap meningkatnya tren pendakian tektok di Indonesia diikuti dengan semakin baiknya literasi keselamatan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pendakian bukan diukur dari banyaknya foto atau video yang diunggah ke media sosial, melainkan dari seluruh anggota rombongan yang dapat kembali dengan selamat tanpa meninggalkan kerusakan di alam.

Dengan demikian, wisata pendakian tidak hanya menghadirkan pengalaman yang berkesan, tetapi juga tetap aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....