Scroll Media Sosial Berlebihan Picu Fenomena Brainrot

  • 23 Jun 2026 08:26 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Aktivitas menggulir layar atau scrolling media sosial yang selama ini dianggap sebagai hiburan ringan ternyata menyimpan risiko bagi kesehatan mental dan fungsi otak. Fenomena tersebut kini populer dikenal dengan istilah brainrot, yakni kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang bersifat ringan dan berulang hingga memengaruhi kemampuan berpikir.

Hal itu disampaikan oleh Bawinda, psikolog sekaligus dosen di Universitas 17 Agustus (UNTAG) Surabaya, saat diwawancarai Pro1 melalui sambungan telepon pada Senin 22 Juni 2026. Menurutnya, kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam menonton video pendek di media sosial perlu mendapat perhatian karena dapat berdampak pada fungsi kognitif seseorang.

"Istilah ini sebenarnya adalah bahasa gaul yang menggambarkan kondisi penurunan fungsi kognitif atau semacam 'ketumpulan' pada otak. Kondisi ini muncul akibat terlalu lama atau terlalu sering mengonsumsi konten digital yang sifatnya berulang, ringan, atau tidak memberikan nilai tambah," jelas Bawinda.

Ia menerangkan bahwa konten yang memicu kondisi tersebut umumnya berupa video singkat dengan isi yang sederhana, tidak membutuhkan proses berpikir mendalam, namun disajikan secara terus-menerus melalui algoritma media sosial. Situasi inilah yang membuat pengguna betah berlama-lama menatap layar tanpa menyadari waktu yang telah dihabiskan.

Dampak yang paling sering dirasakan, lanjut Bawinda, adalah menurunnya kemampuan berkonsentrasi. "Orang yang sering mengalaminya akan mulai kesulitan fokus atau mengerjakan tugas yang membutuhkan pemikiran mendalam. Selain itu, muncul pula kecenderungan kecanduan gadget, di mana ada dorongan kuat dan terus-menerus untuk memeriksa notifikasi atau membuka aplikasi media sosial," ungkapnya.

Tidak hanya itu, brainrot juga dapat memicu kelelahan mental. Seseorang menjadi lebih mudah merasa jenuh, cemas, bahkan mengalami kekosongan batin meskipun telah menghabiskan banyak waktu untuk mencari hiburan di dunia maya. Kondisi tersebut jika dibiarkan berlarut-larut berpotensi memengaruhi keseimbangan emosional.

Fenomena ini bahkan turut memengaruhi cara berkomunikasi generasi muda. "Dalam pergaulan, sering terlihat mereka yang terus-menerus menggunakan istilah gaul internet yang terkadang terdengar tidak masuk akal, seperti 'skibidi' atau 'gyatt', seolah itu menjadi satu-satunya cara mengekspresikan diri," tambah Bawinda.

Meski demikian, Bawinda menegaskan bahwa kondisi tersebut masih dapat dicegah melalui langkah sederhana namun dilakukan secara konsisten. "Sebaiknya atur batas waktu penggunaan ponsel, maksimal satu hingga dua jam sehari di luar keperluan kerja atau belajar. Lakukan juga detoks digital dengan tidak memegang gawai minimal satu jam sebelum tidur agar kualitas istirahat tetap terjaga," sarannya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengimbangi aktivitas digital dengan membaca buku, berolahraga, dan bersosialisasi secara langsung. "Kita tidak perlu melarang total, namun bijaklah mengatur. Dunia maya adalah sarana hiburan, bukan pengganti dunia nyata yang membentuk kualitas diri kita," katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....