Sejarah Bajak Laut Dunia, Jejak Kejahatan di Lautan

  • 06 Okt 2026 15:18 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Bajak laut sering digambarkan sebagai pelaut pemberani dengan kapal besar, bendera hitam, dan harta karun. Gambaran tersebut banyak muncul dalam film dan cerita populer. Namun, sejarah bajak laut sebenarnya jauh lebih tua daripada gambaran bajak laut yang dikenal saat ini.

Menurut World History Encyclopedia, praktik pembajakan di laut telah berlangsung sejak zaman kuno. Catatan mengenai aktivitas bajak laut bahkan sudah ditemukan di kawasan Mediterania pada masa Mesir Kuno. Pada masa itu, kelompok pelaut menyerang wilayah pesisir dan kapal perdagangan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendapatkan barang berharga. Bajak laut juga tidak selalu beroperasi sebagai kelompok independen. Pada masa kuno, beberapa kelompok bajak laut justru memiliki hubungan dengan kerajaan atau pemerintahan tertentu. Mereka dapat digunakan untuk menyerang wilayah musuh.

Perdagangan manusia juga menjadi salah satu bagian dari aktivitas pembajakan pada masa tersebut. Seiring berkembangnya perdagangan laut, aktivitas bajak laut ikut mengalami perubahan. Laut Mediterania menjadi salah satu kawasan penting dalam sejarah pembajakan. Kapal-kapal dagang membawa berbagai barang berharga.

Kondisi tersebut membuat jalur perdagangan menjadi sasaran kelompok yang ingin mendapatkan keuntungan dengan cara merampas. Bangsa Romawi kemudian menghadapi ancaman bajak laut dalam skala besar. Pembajakan bahkan menjadi masalah serius bagi perdagangan dan keamanan wilayah Romawi.

Pada abad pertama sebelum Masehi, Romawi melakukan operasi militer besar untuk menghancurkan kelompok bajak laut di Mediterania. Namun, pembajakan tidak benar-benar menghilang. Aktivitas tersebut terus muncul dalam berbagai bentuk pada periode berikutnya. Memasuki abad ke-17 dan ke-18, dunia memasuki periode yang kemudian dikenal sebagai Golden Age of Piracy. World History Encyclopedia menempatkan periode ini secara umum pada sekitar 1690 hingga 1730. Pada masa tersebut, pembajakan berkembang pesat di kawasan Karibia, pesisir timur Amerika, Atlantik Timur, hingga Samudra Hindia.

Pertumbuhan perdagangan internasional menjadi salah satu faktor penting. Kapal-kapal dagang membawa emas, perak, rempah-rempah, gula, tembakau, tekstil, dan berbagai barang lainnya. Banyaknya kapal dengan muatan berharga menciptakan peluang bagi para bajak laut. Kondisi pemerintahan kolonial yang belum kuat di sejumlah wilayah juga membuat kapal dan pelabuhan lebih mudah menjadi sasaran.

Kehidupan sebagai pelaut pada masa itu juga sangat keras. Sebagian pelaut memilih menjadi bajak laut karena kondisi kerja yang buruk. Sebagian lainnya kehilangan pekerjaan setelah perang berakhir. Bagi mereka, pembajakan menawarkan peluang mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.

Pada masa inilah muncul sejumlah nama yang kemudian terkenal dalam sejarah bajak laut. Blackbeard menjadi salah satu tokoh paling terkenal. Ada pula Captain Kidd dan Bartholomew Roberts. Beberapa perempuan juga tercatat terlibat dalam aktivitas pembajakan. Anne Bonny dan Mary Read merupakan dua nama yang paling dikenal dari periode tersebut.

Kehidupan bajak laut juga tidak sepenuhnya seperti yang digambarkan dalam film. Tujuan utama mereka umumnya adalah mendapatkan barang yang dapat dijual atau digunakan. Emas dan perak menjadi sasaran utama. Namun, barang kebutuhan sehari-hari juga memiliki nilai. Rempah-rempah, gula, tembakau, minuman keras, kain, makanan, hingga perlengkapan kapal dapat dirampas dan dijual kembali.

Para bajak laut membutuhkan tempat untuk beristirahat dan menjual hasil rampasan. Sejumlah pelabuhan kemudian berkembang menjadi tempat perlindungan bagi mereka. Port Royal di Jamaika, Tortuga di Hispaniola, dan New Providence di Bahama menjadi beberapa tempat yang dikenal dalam sejarah pembajakan.

Namun, kejayaan bajak laut tidak berlangsung selamanya. Pemerintah kolonial mulai meningkatkan kekuatan angkatan laut. Kapal-kapal patroli digunakan untuk mengejar para bajak laut. Pelabuhan yang sebelumnya menjadi tempat perlindungan juga mulai ditertibkan. Penjualan barang hasil rampasan semakin sulit dilakukan. Hukuman terhadap bajak laut juga semakin berat.

Banyak bajak laut akhirnya ditangkap dan dihukum mati. Salah satu contoh terjadi pada 1722, ketika puluhan anggota kru Bartholomew Roberts dihukum gantung di Afrika Barat. Perlahan, kekuatan bajak laut menurun. Jalur perdagangan semakin mendapat perlindungan. Angkatan laut juga semakin aktif memburu kelompok pembajak.

Meski begitu, pembajakan tidak pernah benar-benar hilang dari sejarah manusia. Aktivitas tersebut terus muncul di berbagai wilayah dan mengalami perubahan mengikuti perkembangan teknologi serta perdagangan laut. Sejarah bajak laut menunjukkan bahwa pembajakan bukan sekadar kisah tentang kapal, harta karun, dan petualangan. Di baliknya terdapat sejarah panjang perdagangan internasional, peperangan, kolonialisme, kemiskinan, dan lemahnya pengawasan di lautan. Bajak laut kemudian menjadi bagian dari sejarah dunia maritim yang terus dikenang hingga sekarang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....