Pameran Asrul Sani Ajak Generasi Muda Baca Ulang Sejarah

  • 27 Agt 2026 12:48 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini”, sebuah pameran yang mengajak publik menelusuri kembali perjalanan kreatif, pemikiran, dan jejak kebudayaan salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia. Pameran ini berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Asrul Sani merupakan tokoh yang berkarya di berbagai bidang kebudayaan. Ia dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, dan sutradara.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan Asrul tidak dapat dibatasi pada satu bidang. Pameran kemudian menghadirkan sosoknya sebagai seniman yang bekerja lintas-medium.

Kurator pameran, S. Metron Masdison, menilai perspektif tersebut penting untuk memahami Asrul. Menurutnya, kepengarangan Asrul dapat ditemukan dalam berbagai karya dan medium.

“Kami ingin melihat Asrul Sani bukan hanya sebagai sutradara, tetapi sebagai seorang pengarang yang bergerak lintas-medium,” ujar Metron. Ia juga menyebut Asrul sebagai seorang polimatik.

Pameran menghadirkan arsip dari sejumlah lembaga dan keluarga Asrul Sani. Sumbernya antara lain Komisi Koleksi dan Arsip DKJ serta Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Arsip Sinematek Indonesia turut menjadi bagian dari materi pameran. Dokumen keluarga Asrul juga digunakan untuk melengkapi gambaran perjalanan pemikirannya.

Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Dewi Umaya Rachman, menilai arsip memiliki peran penting. Menurutnya, arsip dapat mempertemukan sejarah kebudayaan dengan generasi masa kini.

“Asrul Sani adalah sosok yang memperlihatkan bahwa kehidupan kesenian tidak pernah berdiri dalam sekat-sekat disiplin,” kata Dewi. Ia menilai keberanian Asrul masih penting dibicarakan saat ini.

Dewi berharap masyarakat tidak hanya mengenal Asrul sebagai nama besar masa lalu. Menurutnya, arsip Asrul perlu dibuka kembali agar menghasilkan percakapan baru.

Upaya mengenalkan kembali pemikiran Asrul juga dilakukan melalui diskusi. Sejumlah forum menghadirkan pembicara dari berbagai generasi dan bidang kebudayaan.

Salah satu agenda membahas “Perempuan dalam Karya Asrul Sani”. Diskusi tersebut membicarakan kehadiran dan representasi perempuan dalam karya-karyanya.

Generasi muda juga menjadi perhatian melalui forum khusus. Diskusi “Asrul Sani di Mata Generasi Muda” mengajak peserta membaca karyanya dalam konteks berbeda.

Pameran juga mengangkat pembahasan tentang kepengarangan Asrul dalam film. Sineas Riri Riza dan Gina S. Noer turut hadir dalam diskusi tersebut.

Rangkaian diskusi ditutup dengan pembahasan mengenai inovasi arsip. Forum tersebut membahas upaya merawat dan menghidupkan kembali warisan kebudayaan.

Selain diskusi, pengunjung dapat menyaksikan sejumlah film karya Asrul Sani. Program tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam perjalanan sinema Indonesia.

Film yang diputar antara lain Terimalah Laguku, Pagar Kawat Berduri, dan Apa Jang Kau Tjari, Palupi?. Sejumlah karya lainnya juga ditampilkan hingga Nada dan Dakwah.

Pemutaran film menjadi ruang untuk melihat gagasan Asrul melalui karya audiovisual. Film-film tersebut memperlihatkan perhatian terhadap manusia, moralitas, dan perubahan sosial.

Sementara itu, hubungan Asrul dengan teater dihadirkan melalui dramatic reading. Program tersebut melibatkan Teater Gravitasi dan aktor Teuku Rifnu Wikana.

Keterlibatan berbagai medium memperlihatkan luasnya warisan kreatif Asrul. Karya dan pemikirannya kemudian dipertemukan dengan cara pandang generasi sekarang.

Melalui pameran tersebut, DKJ tidak hanya menghadirkan nostalgia sejarah. Publik diajak menemukan kembali gagasan Asrul dan menghubungkannya dengan kebudayaan hari ini.

Seluruh rangkaian pameran terbuka untuk publik dan gratis. Kegiatan berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....