Me Time, Bukan Hanya Kemewahan namun Kebutuhan
- 27 Mar 2026 15:55 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Fenomena “me time” atau waktu khusus untuk diri sendiri semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, terutama di tengah padatnya ritme kerja. Istilah ini merujuk pada waktu yang digunakan individu untuk beristirahat, melakukan hobi, atau sekadar menjauh sejenak dari tuntutan pekerjaan dan sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren ini tidak lagi dianggap sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental. Sejumlah penelitian akademik terbaru menegaskan bahwa “me time” memiliki peran penting dalam kesejahteraan individu.
Studi berjudul Me-time and Well-being: Rethinking Balance in the Modern Work-Life Landscape (2025) menyebutkan bahwa “me time” adalah waktu untuk pemulihan, pengembangan diri, dan aktualisasi diri di luar pekerjaan maupun keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang pribadi bukan sekadar tren, tetapi bagian dari mekanisme psikologis manusia.
Di tengah budaya kerja yang semakin kompetitif dan munculnya fenomena hustle culture, tekanan kerja sering kali membuat batas antara kehidupan pribadi dan profesional menjadi kabur. Penelitian tahun 2025 dari PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA tentang work-life balance menegaskan bahwa keseimbangan hidup berperan besar terhadap psychological well-being atau kesejahteraan psikologis pekerja. Tanpa jeda seperti “me time”, individu lebih rentan mengalami stres hingga kelelahan emosional.
Penelitian lain yang diterbitkan dari researchgate.net pada 2024 berjudul THE RELATIONSHIP BETWEEN WORK-LIFE BALANCE AND PSYCHOLOGICAL WELL-BEING AMONG EMERGENCY DEPARTMENT NURSES IN HOSPITALS juga menemukan bahwa work-life balance memiliki hubungan positif yang kuat dengan kesehatan mental. Studi pada tenaga medis menunjukkan adanya korelasi signifikan antara keseimbangan hidup dan kesejahteraan psikologis. Artinya, semakin baik seseorang mengatur waktu antara pekerjaan dan diri sendiri, semakin tinggi pula kualitas kesehatannya secara mental.
Fenomena ini juga diperkuat oleh riset internasional dari Cornell University Amerika Serikat pada 2024 yang menunjukkan bahwa waktu luang sering dimanfaatkan untuk aktivitas relaksasi. Studi berbasis pengalaman harian pada pekerja menemukan sekitar 60 persen waktu jeda digunakan untuk kegiatan santai, sebagai upaya menjaga keseimbangan hidup. Aktivitas sederhana seperti mendengarkan musik, berjalan santai, atau menikmati kopi ternyata berperan penting dalam menjaga stabilitas emosi.
Menariknya, organisasi dan perusahaan mulai menyadari pentingnya “me time” bagi karyawan. Penelitian terbaru tahun 2025 menunjukkan bahwa kebijakan seperti jam kerja fleksibel dan dukungan terhadap work-life balance dapat meningkatkan motivasi, kepuasan kerja, hingga loyalitas karyawan. Hal ini menandakan bahwa “me time” tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga produktivitas organisasi.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa “me time” perlu dilakukan secara seimbang. Terlalu banyak waktu sendiri tanpa interaksi sosial juga dapat berdampak negatif. Oleh karena itu, kunci utamanya adalah mengelola waktu secara proporsional antara pekerjaan, relasi sosial, dan kebutuhan pribadi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....