Menapak di Era Digital: Kisah Pelaku UKM Sepatu Mojokerto Menembus Pasar Global
- 07 Okt 2026 09:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Mojokerto - Perkembangan teknologi digital membuka jalan baru bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk memperluas pasar tanpa harus bergantung pada penjualan secara konvensional. Hal itu pula yang dirasakan pasangan suami istri asal Mojokerto, Amiati Puspitasari dan Muzaki Bustom, pemilik merek sepatu olahraga SAGANEXT.
Perjalanan SAGANEXT bermula dari aktivitas keduanya sebagai reseller. Saat itu, Amiati dan Muzaki masih menjual produk milik merek lain melalui kanal digital. Seiring meningkatnya pemasukan, keduanya mulai berani membangun merek sendiri pada 2023.
Muzaki mengatakan, pengalaman sebagai reseller menjadi modal penting sebelum mereka memutuskan memproduksi sepatu dengan merek sendiri.
“Merintisnya itu dari jualan sebagai reseller. Kita menjual produk dan brand orang. Terus, lama-lama pemasukan kita cukup besar. Akhirnya, di tahun 2023, kita beranikan diri untuk membuat brand sendiri,” cerita Muzaki.
Pilihan untuk masuk ke bisnis sepatu olahraga juga tidak datang secara tiba-tiba. Amiati dan Muzaki sebelumnya memang memiliki pengalaman menggunakan berbagai produk sepatu olahraga. Ketika tren olahraga, khususnya lari, mulai berkembang pada 2023, keduanya melihat adanya peluang pasar yang belum banyak digarap di wilayah Mojokerto.
“Awal-awal tren lari itu di tahun 2023, sekitar Mojokerto itu kan belum ada sepatu yang khusus buat running dan kita membuat sepatu running. Awal mula penjualan kita banyak di sepatu running dengan harga yang ekonomis,” kata Amiati.
SAGANEXT kemudian tidak hanya mengandalkan harga, tetapi juga berusaha membangun identitas produk melalui desain. Muzaki mengatakan, pada awal kemunculannya, mereka memilih karakter desain dengan warna-warna mencolok yang saat itu tengah diminati konsumen.
“Kita fokus di desain. Kita investasi di desain. Kita fokus bagaimana caranya SAGANEXT ini punya ciri khas tersendiri,” ujar Muzaki.
Strategi tersebut mendapat respons positif dari pasar. Produk dengan warna penuh atau full color yang mereka tawarkan mulai dikenal dan mendorong peningkatan penjualan.
Target pasar SAGANEXT pun cukup luas. Produk mereka menyasar konsumen mulai dari remaja hingga orang dewasa yang membutuhkan sepatu olahraga, sementara untuk saat ini mereka belum masuk ke segmen sepatu anak-anak.
Media Sosial menjadi Pintu Masuk Pasar
Perkembangan SAGANEXT tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan platform digital. Sejak awal, Amiati dan Muzaki menggunakan media sosial dan platform perdagangan elektronik untuk memperkenalkan produk.
Muzaki menyebut TikTok dan Shopee menjadi bagian penting dalam perjalanan awal SAGANEXT. Instagram juga dimanfaatkan untuk membangun pengenalan terhadap merek tersebut.
“Awalnya kita memang mulai dari media sosial. Kita jual di TikTok, kita jual di Shopee, dan kita promosikan serta kenalkan di Instagram,” ujarnya.
Dari kanal digital tersebut, produk SAGANEXT perlahan menjangkau konsumen di berbagai wilayah Indonesia. Penjualan tidak lagi terbatas pada Mojokerto dan sekitarnya, tetapi merambah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan hingga Papua.
Bahkan, pemasaran melalui platform digital membuka peluang penjualan lintas negara. Saat ini, produk SAGANEXT telah dibeli konsumen secara ritel melalui Shopee di sejumlah negara Asia Tenggara.
Amiati menjelaskan, pasar luar negeri yang telah dijangkau antara lain Malaysia, Filipina, dan Thailand.
“Kalau ke luar negeri, mungkin masih di Malaysia, Filipina sama Thailand, lewat Shopee,” tutur Amiati.
Menurutnya, penjualan ke Malaysia dan negara lainnya tersebut masih didominasi pembelian ritel oleh konsumen secara langsung melalui platform digital. “Ritel, by Shopee,” tambahnya.

80 Persen Omzet Berasal dari Online
Besarnya pengaruh digital terhadap perkembangan SAGANEXT terlihat dari komposisi penjualan mereka. Muzaki mengatakan, penjualan offline saat ini hanya menyumbang sekitar 20 persen dari total omzet. Dengan demikian, sekitar 80 persen omzet berasal dari kanal online.
“Untuk omzet, jika ditotal 100 persen, yang offline ini hanya 20 persen saja. Jadi, sebagian besarnya berasal dari online,” terangnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana platform digital tidak sekadar menjadi sarana promosi, tetapi juga menjadi saluran utama transaksi bagi usaha yang mereka bangun.
Perjalanan itu tidak berlangsung instan. Pada 2023, ketika SAGANEXT baru mulai diperkenalkan, pesanan mereka masih berada di bawah 100 produk per hari. Seiring meningkatnya pengenalan merek melalui media sosial dan dukungan promosi dari berbagai pihak, penjualan ikut meningkat.
“Di tahun 2023, pasar pesanan kita itu masih di bawah 100 piece per hari. Terus akhirnya mulai dikenal,” imbuhnya.
Muzaki menyebut kolaborasi dengan pemerintah daerah turut membantu meningkatkan eksposur merek. Produk SAGANEXT kemudian semakin dikenal setelah mendapat dukungan promosi dari pemerintah dan sejumlah tokoh daerah.
“Melalui media dan kolaborasi dengan pemerintah, produk kita semakin dikenal. Penjualan juga meningkat hampir dua kali lipat. Jadi, untuk saat ini bisa dibilang ada peningkatan sekitar 200 persen,” tegasnya.

Digital Membuka Peluang Ekonomi Baru
Pertumbuhan pasar tersebut kemudian berdampak pada kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja. Saat ini SAGANEXT mampu memproduksi sekitar 10.000 hingga 15.000 pasang sepatu per bulan, dengan jumlah pekerja sekitar 100 orang.
“Untuk saat ini mempekerjakan kurang lebih 100 orang,” ujar Amiati.
Selain melayani penjualan reguler, SAGANEXT juga menerima pesanan dalam jumlah besar dan produk custom. Pesanan dari sejumlah instansi bahkan mencapai ratusan pasang.
“Pesanan semuanya itu, baik penjualan online maupun offline. Kalau pesanan custom mungkin lebih banyak lagi. Jadi, kita bisa menerima pesanan custom,” kata Amiati.
Pertumbuhan itu memperlihatkan bahwa transformasi digital bagi pelaku UKM tidak berhenti pada aktivitas mengunggah produk di media sosial. Ketika kanal digital berhasil mempertemukan produk dengan pasar yang lebih luas, dampaknya dapat menjalar ke peningkatan produksi, pesanan, hingga kebutuhan tenaga kerja.

Dari Mojokerto Menuju Pasar Internasional
Kini, setelah membangun pasar melalui kanal digital di dalam negeri dan mulai menjangkau konsumen luar negeri, SAGANEXT mulai mempersiapkan langkah berikutnya: pasar internasional yang lebih luas.
Muzaki mengatakan, pihaknya telah mulai melengkapi dokumen untuk melakukan ekspansi ke pasar Asia. Mereka juga sempat mendapat kesempatan mengikuti pameran di Nagoya, Jepang, melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Mojokerto.
Meski kesempatan tersebut belum terealisasi sesuai harapan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya SAGANEXT untuk membuka jalan menuju pasar global.
“Keinginan kita juga memang ada untuk masuk ke pasar internasional. Tapi ada beberapa dokumen dan standar internasional, seperti ISO, standar internasional yang mungkin belum kita pegang. Jadi, mungkin ke depannya kita akan melengkapi itu dulu,” terang Muzaki.
Bagi Amiati dan Muzaki, perjalanan SAGANEXT menunjukkan bahwa teknologi digital dapat menjadi pintu bagi UKM untuk naik kelas. Berawal dari reseller, membangun merek sendiri, memasarkan produk melalui media sosial dan e-commerce, hingga menjangkau konsumen lintas daerah dan negara.
Dari Mojokerto, sepasang suami istri itu kini sedang menapaki jalan menuju pasar yang lebih luas. Perjalanan tersebut masih panjang, tetapi bagi SAGANEXT, kata “NEXT” dalam namanya menjadi pengingat bahwa pertumbuhan tidak berhenti pada satu pencapaian.
Mereka ingin terus bergerak, memperluas pasar, dan membawa sepatu olahraga buatan Mojokerto semakin dikenal hingga ke luar negeri.

Teknologi Digital Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM
Perkembangan teknologi digital membuka peluang yang semakin besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar. Kehadiran marketplace dan media sosial tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga membuka akses penjualan yang sebelumnya terbatas pada wilayah tertentu.
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Surabaya (UBAYA), Dr. Prita Ayu Kusumawardhany, mengatakan kanal digital, khususnya marketplace, menjadi salah satu peluang yang perlu dimanfaatkan UMKM untuk mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memperluas jangkauan pasar.
“Karena kanal digital, spesifiknya marketplace, merupakan kesempatan yang baik bagi UMKM untuk bisa mengikuti dan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Fungsinya adalah untuk meningkatkan traffic atau kanal transaksi bagi UMKM yang memang ingin menjangkau pasar lebih luas,” ujar Prita.
Menurut dia, keberadaan kanal digital kini semakin penting bagi pelaku UMKM. Jika sebelumnya sebuah usaha mengandalkan penjualan secara langsung dan hanya menjangkau konsumen di sekitar lokasi usaha, marketplace memungkinkan produk dipasarkan ke wilayah yang jauh lebih luas.
Ia mencontohkan UMKM yang berjualan secara konvensional di Surabaya. Ketika hanya mengandalkan toko fisik, jangkauan pasar cenderung berada di sekitar lokasi usaha. Namun, kondisi tersebut berubah ketika pelaku usaha memanfaatkan marketplace.
“UMKM di Surabaya biasanya berjualan secara onsite dan hanya menjangkau daerah tertentu, misalnya di Jalan Tunjungan. Akses pasar dan potensi market-nya tentu hanya berada di sekitar daerah tersebut. Namun, dengan kanal digital, khususnya marketplace, UMKM bisa menjangkau pasar bahkan di luar Surabaya, seluruh Indonesia, bahkan memungkinkan untuk ekspor,” katanya.

Bukan Sekadar Berjualan di Marketplace
Meski menawarkan akses pasar yang lebih luas, Prita mengingatkan bahwa kehadiran UMKM di marketplace tidak otomatis membuat sebuah usaha memiliki daya saing. Menurutnya, pelaku usaha tetap perlu membangun identitas dan kekuatan merek.
“Fungsi marketplace ataupun kanal digital lainnya adalah untuk meningkatkan traffic dan akses pasar saja. UMKM tetap perlu meningkatkan branding masing-masing karena sebenarnya aset bisnis itu adalah brand dari UMKM itu sendiri,” ujarnya.
Hal tersebut menjadi penting di tengah pertumbuhan jumlah UMKM dan persaingan yang semakin ketat di ruang digital. Marketplace tidak hanya mempertemukan UMKM dengan konsumen, tetapi juga menghadapkan mereka dengan banyak kompetitor dari berbagai daerah.
“Percuma kalau misalnya UMKM memiliki kanal digital, punya platform, atau punya toko di platform tertentu, tetapi ternyata tidak memiliki daya saing,” kata Prita.
Karena itu, pemanfaatan teknologi digital perlu dibarengi dengan pembenahan strategi bisnis. Produk yang dipasarkan harus memiliki pembeda agar mampu menarik perhatian konsumen di tengah banyaknya pilihan yang tersedia secara daring.
Media Sosial Berkembang Menjadi Kanal Perdagangan
Selain marketplace, media sosial juga memiliki peran penting dalam perkembangan bisnis digital. Prita melihat adanya pergeseran dari media sosial sebagai sarana komunikasi menjadi kanal perdagangan atau social commerce.
“Kalau sekarang trennya masuk ke social commerce. Kita lihat TikTok, yang awalnya merupakan social networking atau social media, akhirnya berkembang menjadi social commerce,” tuturnya.
Menurut Prita, kekuatan social commerce terletak pada basis komunitas yang dimiliki platform media sosial. Ketika jumlah pengguna besar dan platform memberikan ruang bagi kreator untuk mempromosikan produk melalui sistem afiliasi, terbuka peluang kolaborasi antara UMKM dan kreator digital.
“Ketika sebuah social media memiliki basis komunitas atau jumlah pengguna yang sangat besar, kemudian memberikan peluang bagi para penggunanya untuk menjadi afiliator bagi brand lokal yang juga memiliki akun di media sosial tersebut, maka akun tersebut akan menjadi semakin kuat dan berkembang menjadi social commerce,” jelasnya.
Model tersebut memungkinkan UMKM memanfaatkan jaringan kreator untuk memperkenalkan produknya kepada calon konsumen. Kreator memperoleh komisi dari penjualan, sementara UMKM mendapatkan saluran promosi yang lebih luas.
“Bagi para TikTokers ataupun kreator, mereka mendapatkan peluang berupa komisi penjualan. Sementara dari sisi UMKM maupun brand lokal, mereka bisa mengiklankan produknya secara lebih masif tanpa harus mengeluarkan biaya di awal, tetapi berdasarkan sistem komisi melalui affiliate marketing di TikTok,” kata Prita.
Dengan model tersebut, pemanfaatan teknologi digital tidak hanya menciptakan saluran baru bagi konsumen untuk menemukan produk, tetapi juga menciptakan ekosistem baru yang mempertemukan UMKM dengan kreator digital.

Tak Harus Hadir di Semua Platform
Meski terdapat banyak pilihan platform digital, Prita menilai UMKM tidak harus memaksakan diri untuk aktif di seluruh platform media sosial. Keterbatasan tenaga, waktu, dan biaya justru perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi digital.
“Daripada memberikan UMKM tugas yang berat untuk memiliki atau aktif di semua platform, saya lebih menghimbau para UMKM untuk mengoptimalkan platform yang memang bisa dan mampu mereka kelola terlebih dahulu,” ujarnya.
Pelaku usaha, lanjut dia, dapat memilih satu platform yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik bisnisnya. Setelah platform tersebut berjalan secara optimal, barulah UMKM dapat memperluas ke kanal digital lainnya.
“Misalnya, mereka ingin mengoptimalkan TikTok terlebih dahulu, ya sudah, TikTok saja dulu. Yang penting konsisten dalam membuat konten dan melakukan evaluasi secara berkala,” katanya.
Evaluasi tersebut dapat dilakukan dengan melihat kekurangan konten, produk, hingga hal yang membedakan usaha mereka dari kompetitor.
Prita menggambarkan strategi tersebut dengan sebuah analogi sederhana. “Daripada kita mengisi lima ember di berbagai platform tetapi airnya hanya setengah-setengah, lebih baik kita fokus pada satu ember atau satu wadah yang bisa kita isi sampai penuh.”
Setelah kanal pertama dapat dikelola secara konsisten dan memberikan manfaat bagi bisnis, UMKM kemudian dapat mulai memperluas ke platform lainnya.
“Karena saya tahu tantangan terbesar bagi para UMKM adalah tenaga, waktu, dan biaya,” ujarnya.
Dari Brand Awareness hingga Perluasan Pasar
Pada akhirnya, pemanfaatan media sosial juga berkaitan erat dengan upaya membangun brand awareness. Kehadiran sebuah UMKM di ruang digital membuat konsumen lebih mudah mengenali keberadaan dan produk yang ditawarkan.
“Sebenarnya, fungsi media sosial itu sendiri adalah sebagai brand awareness. Artinya, orang bisa mengetahui bahwa UMKM tersebut eksis melalui media sosial,” kata Prita.
Menurutnya, besarnya potensi pasar yang dapat dijangkau melalui media sosial tetap bergantung pada target pasar masing-masing UMKM. Namun, jumlah pengguna platform digital yang besar memberikan peluang bagi produk lokal untuk dikenal oleh konsumen yang sebelumnya berada di luar jangkauan pasar konvensional.
“Kalau dari Indonesia sendiri, jumlah pengguna media sosial tersebut juga termasuk yang terbesar di dunia. Artinya, ada hubungan antara awareness dengan potensi akses pasar yang bisa mereka dapatkan,” tuturnya.
Dengan demikian, transformasi digital bagi UMKM bukan sekadar memindahkan aktivitas jual beli dari toko fisik ke marketplace. Lebih dari itu, teknologi digital dapat menjadi sarana untuk memperluas akses pasar, membangun merek, menciptakan kolaborasi dengan kreator, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi bagi pelaku usaha.
Kuncinya, menurut Prita, bukan pada seberapa banyak platform yang digunakan, melainkan seberapa optimal UMKM mampu memanfaatkan kanal digital yang mereka pilih untuk membangun bisnis yang berdaya saing.

Strategi Dinas Koperasi dan UKM Jatim Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Teknologi Digital
Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu jalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Timur untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing. Tidak hanya melalui media sosial dan perangkat desain digital, platform perdagangan global juga mulai dimanfaatkan untuk mempertemukan produk lokal dengan calon pembeli dari berbagai negara.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur Endy Alim Abdi Nusa mengatakan, digitalisasi memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperkuat kemampuan promosi dan membangun branding produk.
Salah satu dukungan yang diberikan adalah akses terhadap berbagai fasilitas digital yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha untuk membuat materi promosi.
“Program tersebut memberikan akses gratis selama satu tahun bagi pelaku usaha Jawa Timur untuk menggunakan berbagai fasilitas Canva, termasuk untuk kebutuhan desain dan promosi,” kata Endy.
Menurut dia, kemampuan membuat materi promosi menjadi semakin penting karena persaingan bisnis tidak lagi berlangsung hanya di pasar konvensional. Pelaku UMKM perlu mampu menampilkan produknya secara menarik sekaligus membangun identitas merek di ruang digital.
“Program seperti ini penting karena pelaku usaha membutuhkan kemampuan untuk membuat materi promosi, membangun branding, dan memasarkan produknya secara digital,” ujarnya.
Selain program tersebut, pemerintah juga mendorong digitalisasi melalui PMKM Digital. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan bisnis.
Dari Pasar Lokal Menuju Pasar Global
Pemanfaatan teknologi digital tidak berhenti pada promosi. Bagi Endy, platform perdagangan digital juga membuka peluang bagi UMKM Jawa Timur untuk berhadapan langsung dengan pasar internasional.
Salah satu platform yang mulai didorong untuk dimanfaatkan adalah Alibaba. Endy mengatakan, pemerintah daerah bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur untuk memberikan pemahaman kepada pelaku usaha mengenai peluang perdagangan melalui platform tersebut.
“Alibaba memiliki fasilitas yang mempermudah pelaku usaha untuk masuk ke pasar internasional. Salah satunya adalah RFQ,” katanya.
Melalui fasilitas Request for Quotation (RFQ), produk yang ditawarkan pelaku usaha dapat dipublikasikan kepada calon pembeli dari berbagai negara. Calon pembeli kemudian dapat menanyakan detail produk sebelum melakukan pemesanan.
Endy mencontohkan produk kopi. Ketika kopi dipasarkan melalui platform digital tersebut, calon pembeli dari luar negeri dapat melihat produk dan menanyakan berbagai spesifikasi, mulai dari jenis kopi hingga tingkat kematangan sangrai.
“Dari RFQ tersebut, pesanan bisa langsung masuk menjadi purchase order atau PO,” ujarnya.
Menurut Endy, mekanisme tersebut menunjukkan bagaimana teknologi digital dapat memangkas batas geografis dalam perdagangan. Pelaku usaha tidak harus terlebih dahulu memiliki jaringan bisnis yang luas di luar negeri untuk memperkenalkan produknya.
Pengalaman tersebut, kata Endy, juga sudah dirasakan salah satu pengusaha yang memanfaatkan platform Alibaba.
“Dan itu sudah dibuktikan oleh Andreas. Dia mengatakan, ‘Pak, ternyata kopi saya sudah terjual.’ Kemudian dia menyampaikan kepada saya, ‘Pak, bagaimana kalau kita bekerja sama?’” tutur Endy.
Pemerintah Bantu Kurasi Produk UMKM
Meski platform digital memberikan akses menuju pasar global, tidak semua produk secara otomatis siap dipasarkan ke luar negeri. Endy menilai proses kurasi tetap diperlukan untuk memastikan produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pasar internasional.
“Kalau pelaku UMKM di Jawa Timur memiliki produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar luar negeri, saya akan membantu mengkurasi produk-produk tersebut,” katanya.
Produk yang telah melalui proses kurasi kemudian dapat ditampilkan pada platform atau situs yang dituju sehingga berpeluang ditemukan oleh calon pembeli internasional.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menjembatani keterbatasan pelaku usaha mikro dalam mengakses platform perdagangan global. Salah satu tantangannya adalah biaya akses.
Endy menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, biaya akses untuk komoditas tertentu di Alibaba dapat mencapai sekitar 4.000 dolar AS per tahun.
“Artinya, pelaku usaha mikro tentu tidak mungkin membayar sendiri biaya sebesar itu. Karena itu, salah satu bentuk dukungan kita adalah membantu membiayai akses tersebut sehingga mereka bisa masuk ke Alibaba,” ujarnya.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membuat pelaku usaha yang memiliki produk potensial tidak berhenti pada pasar lokal hanya karena keterbatasan biaya dan akses teknologi.
Produk Lokal Punya Peluang di Pasar Luar Negeri
Menurut Endy, peluang ekspor terbuka bagi berbagai produk UMKM Jawa Timur sepanjang mampu memenuhi kebutuhan dan standar pasar yang dituju.
Ia menyebut furnitur sebagai salah satu contoh produk yang telah berhasil menembus pasar internasional. Selain itu, terdapat pula pelaku usaha yang memproduksi briket berbahan kelapa maupun kayu dan memasarkannya ke negara seperti Korea dan Jepang.
“Kalau produk-produk yang sudah go international, ada beberapa contoh. Misalnya furnitur. Kemudian ada ibu-ibu yang menjual briket dari kelapa atau kayu. Produk seperti itu memiliki pasar, antara lain, di Korea dan Jepang,” kata Endy.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa produk UMKM tidak selalu harus berasal dari industri berskala besar untuk dapat memasuki pasar global. Dengan dukungan teknologi, produk yang sebelumnya hanya dikenal di pasar domestik dapat diperkenalkan kepada calon konsumen dan pembeli dari berbagai negara.
Namun, digitalisasi tetap harus diikuti kesiapan produk. Endy menilai tantangan berikutnya adalah kemampuan UMKM memenuhi permintaan pasar internasional, baik dari sisi kualitas maupun harga.
“Memang tantangannya adalah bagaimana pelaku UMKM bisa memenuhi kebutuhan pasar luar negeri,” ujarnya.
Ia mencontohkan komoditas kopi. Pelaku usaha yang memiliki kebun kopi dapat mengembangkan produknya agar memiliki nilai jual dan memenuhi kebutuhan pasar internasional.
“Hotel-hotel di luar negeri juga pasti membutuhkan berbagai produk, sepanjang harganya tepat dan kualitasnya sesuai dengan kebutuhan pembeli,” kata Endy.
Dengan demikian, teknologi digital tidak hanya menjadi alat untuk mempromosikan produk UMKM. Jika dimanfaatkan secara optimal dan didukung kesiapan produk, teknologi juga dapat menjadi pintu masuk menuju rantai perdagangan internasional.
Bagi UMKM Jawa Timur, transformasi tersebut membuka peluang untuk bergerak dari sekadar menjangkau konsumen di sekitar tempat usaha menuju pasar yang lebih luas—bahkan hingga ke berbagai negara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....