EastFood Indonesia 2026: Saat Surabaya Jadi Etalase Masa Depan Industri Pangan
- 18 Jun 2026 21:07 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di antara aroma kopi yang baru diseduh, roti yang baru matang, dan ramainya percakapan bisnis, ribuan orang memenuhi Grand City Convention & Exhibition Surabaya. Selama empat hari, tempat itu menjadi titik temu pelaku usaha, investor, chef, pelaku UMKM, hingga pencinta kuliner yang datang membawa harapan dan peluang baru bagi industri pangan Indonesia.
Selama empat hari, 18–21 Juni 2026, Indonesia International Food Expo (IIFEX) atau EastFood Indonesia 2026 menjadi ruang pertemuan antara inovasi, teknologi, investasi, dan peluang bisnis. Pameran yang diselenggarakan Krista Exhibitions itu menghadirkan ekosistem industri pangan dari hulu hingga hilir dalam satu kawasan..
Jawa Timur memiliki alasan kuat menjadi tuan rumah ajang tersebut. Berdasarkan data Dinas Perdagangan Jawa Timur, struktur ekonomi provinsi ini ditopang sektor industri pengolahan sebesar 31,45 persen.
Dari sektor itu, industri makanan dan minuman menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Nilai Produk Domestik Regional Bruto sektor makanan dan minuman telah mencapai Rp451 triliun dengan rata-rata pertumbuhan 11,6 persen per tahun sejak 2021.
"Ini salah satu pameran yang secara konsisten diselenggarakan di Surabaya dan dari tahun ke tahun memberikan dampak yang luar biasa bagi Jawa Timur," kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Jawa Timur, Yudi Arianto.

Optimisme terhadap industri pangan nasional juga terlihat dari capaian sektor makanan dan minuman sepanjang 2025. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyebut industri tersebut tumbuh 6,38 persen pada 2025 dan meningkat menjadi 7,04 persen pada triwulan pertama 2026. Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada level 5,61 persen.
Menurut Adhi, makanan dan minuman merupakan sektor yang tetap dibutuhkan masyarakat dalam kondisi apa pun.
Namun, perjalanan industri tidak selalu berjalan mulus. Pelaku usaha masih menghadapi tantangan geopolitik global, perubahan iklim, kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, hingga biaya energi yang terus meningkat.
"Kita terus berupaya menghasilkan produk yang lebih affordable, lebih terjangkau oleh masyarakat. Karena tantangan lain adalah daya beli masyarakat," ujar Adhi.
Meski menghadapi berbagai tekanan, kontribusi sektor makanan dan minuman terhadap perekonomian nasional tetap sangat besar. Industri ini menyumbang sekitar 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan sekitar 42 persen terhadap PDB nonmigas.
Kontribusi tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat. Di sisi lain, ekspor produk makanan dan minuman olahan juga terus menunjukkan tren positif.
Menurut Adhi, nilai ekspor produk olahan makanan dan minuman telah melampaui 13 miliar dolar Amerika Serikat. Jika termasuk komoditas sawit, nilainya mencapai sekitar 40 miliar dolar Amerika Serikat.
"Kita berharap pertumbuhan kita bisa bertahan di 7 persen," katanya.

Harapan tersebut mendapat panggung nyata melalui EastFood Indonesia 2026. Pameran ini menghadirkan lebih dari 180 peserta dari dalam dan luar negeri yang menampilkan beragam inovasi produk, teknologi, dan layanan pendukung industri pangan.
Tidak hanya perusahaan besar yang memperoleh ruang. Sebanyak 30 UMKM binaan juga mendapat kesempatan mempromosikan produk mereka kepada pasar yang lebih luas dan jejaring bisnis yang lebih matang.
Chief Executive Officer Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menegaskan bahwa EastFood Indonesia bukan sekadar tempat memamerkan produk. Menurutnya, pameran ini dirancang menjadi platform bisnis yang mampu mempertemukan pelaku industri dari berbagai negara.
"EastFood Indonesia 2026 bukan sekadar tempat pameran produk. Ini adalah platform strategis bagi para pelaku usaha untuk saling bertukar inovasi, melihat tren pasar global, dan menemukan teknologi pengolahan pangan terbaru demi meningkatkan efisiensi produksi," ujarnya.
Daud menjelaskan, industri pangan saat ini dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, serta standar keamanan pangan yang semakin ketat. Karena itu, EastFood menghadirkan seluruh mata rantai industri dalam satu ekosistem.
Di area bahan baku, pengunjung dapat menemukan produk pangan segar, bahan bakery, produk susu, keju, bumbu instan, hingga bahan pangan premium. Bagi UMKM, akses terhadap bahan baku berkualitas menjadi fondasi penting untuk menjaga konsistensi dan daya saing produk.
Sementara itu, area teknologi pengolahan dan pengemasan menampilkan mesin-mesin modern, sistem produksi otomatis, hingga teknologi kemasan terbaru. Perkembangan ini menjadi penting karena kemasan kini bukan hanya pelindung produk, melainkan identitas merek dan pintu masuk menuju pasar ekspor.
Business Development Indonesian Packaging Federation (IPF), Ariana Susanti, menilai perkembangan teknologi pengemasan bergerak sangat cepat. Menurutnya, teknologi digital dan kecerdasan buatan mulai memainkan peran besar dalam industri tersebut.
"Kompleks sekali hutan belantara packaging sebenarnya," ujarnya.
Ariana menyebut sekitar 50 persen bahan baku pengemasan masih bergantung pada impor. Namun kondisi itu sekaligus membuka peluang inovasi baru bagi industri nasional.
EastFood juga menghadirkan berbagai seminar dan lokakarya yang membahas isu strategis. Topiknya mulai dari sertifikasi halal, regulasi BPOM dan PIRT, digitalisasi usaha, pengembangan merek, hingga strategi ekspor.
Salah satu program yang paling diminati adalah Business Matching dan Hosted Buyer Program. Melalui program tersebut, peserta dapat bertemu langsung dengan distributor, investor, importir, eksportir, serta calon pembeli dari berbagai negara.
"EastFood Indonesia Expo 2026 juga menghadirkan program Business Matching. Program ini mempertemukan peserta dengan distributor, investor, dan calon mitra usaha," kata Daud.

Selain transaksi bisnis, EastFood juga menghadirkan panggung kreativitas melalui Bakat Boga Challenge 2026. Kompetisi kuliner tersebut mempertemukan talenta dari berbagai daerah untuk menunjukkan kemampuan dan inovasi mereka.
Berbagai kategori dilombakan, mulai dari Lapis Surabaya, Bolu Gulung Keju, Traditional Jajanan Pasar, Western Seafood Spaghetti, Chicken Main Course, The Best Risoles, hingga Classic Chiffon Cake.
Ketua Komite Bakat Boga Surabaya Association of Culinary Professionals, Chef Tius Faisal Martadinata, menyebut minat peserta terus meningkat setiap tahun. Beberapa kategori bahkan menjadi favorit peserta dari berbagai daerah.
"Antusiasme peserta sangat tinggi, terutama kategori chicken main course Indonesian style dan kompetisi soto ayam," katanya.
Pameran juga menghadirkan berbagai Cooking Demo dan Baking Demo bersama chef profesional serta merek-merek ternama seperti IndoBake, Kewpie, dan Rich's. Melalui kegiatan tersebut, pengunjung dapat melihat langsung perkembangan tren industri pangan dan kuliner.
Pada akhirnya, EastFood Indonesia 2026 bukan hanya tentang makanan dan minuman. Pameran ini menunjukkan bagaimana sebuah industri bergerak, beradaptasi, dan membangun masa depannya melalui inovasi, kolaborasi, serta perluasan pasar global.
Dari Surabaya, pesan itu terdengar jelas. Industri pangan Indonesia tidak hanya bertahan menghadapi tantangan global, tetapi juga terus bertumbuh dan bersiap menjadi pemain yang semakin kuat di pasar dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....