Kreativitas Wanda Mengubah Puding Menjadi Karya 3D
- 30 Agt 2026 14:59 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya- Kreativitas dalam mengolah makanan terus berkembang di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satunya dilakukan Wanda Puspita Dewi, pelaku UMKM asal Surabaya yang mengembangkan usaha Dari Dapur Wanda dengan produk andalan puding 3D.
Memulai usaha sejak 2025, Wanda memilih puding karena proses pembuatannya relatif sederhana serta bahan bakunya mudah diperoleh. Selain itu, puding dinilai menjadi makanan yang dapat dikonsumsi oleh berbagai kelompok usia. “Saya memilih puding karena sederhana, bahan bakunya mudah didapat, dan bisa dikonsumsi segala usia,” ujarnya. Minggu, 30 Agustus 2026.
Keterampilan menghias puding diperoleh Wanda secara otodidak dengan mendapat inspirasi sekaligus bantuan dari saudara kembarnya, Winda, yang sebelumnya mengikuti kursus membuat puding dengan teknik suntik pada bagian dalam. Namun, Wanda kemudian mengembangkan teknik tersebut agar tampilan puding memiliki bentuk tiga dimensi yang lebih menonjol.
“Saya merasa kurang sreg kalau hanya bagian dalamnya yang berbentuk bunga. Saya ingin 3D-nya benar-benar terlihat keluar atau timbul,” jelasnya. Dari proses eksplorasi tersebut, lahirlah karakteristik puding 3D Dari Dapur Wanda dengan tampilan dekoratif yang menjadi daya tarik tersendiri.
Selain puding 3D, Dari Dapur Wanda juga menyediakan puding caramel dan macaroni schotel. Untuk puding 3D ukuran besar diameter 22 sentimeter dibanderol Rp120 ribu, sedangkan ukuran sedang 25x12 sentimeter seharga Rp80 ribu. Ukuran mini dengan fla dijual Rp10 ribu dan tanpa fla Rp9 ribu. Sementara macaroni schotel ukuran besar dibanderol Rp170 ribu, ukuran sedang Rp90 ribu, dan ukuran kecil Rp20 ribu.
Menurut Wanda, salah satu pembeda produknya adalah cita rasa puding 3D yang menggunakan rasa leci. Penggunaan rasa tersebut membuat puding terasa lebih ringan dan tidak terlalu eneg. Selain itu, setiap produk dibuat berdasarkan pesanan sehingga pelanggan mendapatkan produk yang relatif fresh. “Puding kami rasanya leci, jadi tidak hanya terasa susu dan tidak gampang eneg. Produknya juga dibuat pada hari pengiriman,” katanya.
Dalam proses produksi, Wanda masih mengerjakan seluruh tahapan secara mandiri, mulai dari berbelanja bahan baku hingga pembuatan produk. Sistem penjualan yang diterapkan adalah made by order dengan pemesanan minimal H-2 atau H-1. Saat ini, pemesanan masih dilakukan secara langsung dan produk dikirim dari kawasan Kenjeran untuk pelanggan di seluruh wilayah Surabaya, dengan jangkauan terjauh Surabaya Barat.
Dari Dapur Wanda juga belum masuk ke berbagai platform penjualan daring. Untuk pemesanan di luar Surabaya, pelanggan diharapkan bersedia menanggung biaya pengiriman sekaligus memahami risiko perubahan kondisi puding selama perjalanan. Puding 3D dapat bertahan sekitar enam jam pada suhu ruang dan tiga hingga empat hari jika disimpan di dalam kulkas karena dibuat tanpa bahan pengawet. Ke depan, Wanda berencana mengurus PIRT, terus mengikuti pameran UMKM seperti Halal Food Festival, serta mengembangkan usahanya hingga memiliki toko sendiri dan menambah varian makanan berat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....