Intako Tanggulangin Terpuruk, Pengrajin Menyusut Terlilit Utang Bank

  • 07 Jul 2026 13:13 WIB
  •  Surabaya

‎RRI.CO.ID, Sidoarjo - Sentra Industri Tas dan Koper (Intako) Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ikon wisata belanja sekaligus pusat industri kulit nasional, kini menghadapi krisis berkepanjangan. Jumlah pengrajin terus menyusut, deretan toko banyak yang tutup, sementara koperasi yang menjadi tulang punggung industri tersebut masih dibebani utang perbankan yang belum mampu dilunasi.

‎Ketua Koperasi Intako, Zainul Arifin, mengungkapkan, saat ini hanya sekitar 200 pengrajin yang masih bertahan. Angka itu turun drastis dibanding masa kejayaan Intako ketika ribuan perajin menggantungkan hidup dari industri tas dan koper di kawasan Tanggulangin.

‎"Kondisi serupa juga terjadi di internal koperasi. Jika dulu kami memiliki sekitar 80 karyawan, sekarang tinggal sekitar 20 orang. Penjualan pun terus merosot hingga lebih dari 50 persen setiap tahun," ujar Zainul saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 7 July 2026.

‎Menurut dia, perubahan perilaku belanja masyarakat menjadi tantangan terbesar yang kini dihadapi para pelaku usaha. Kehadiran marketplace membuat konsumen lebih memilih berbelanja secara daring dibanding datang langsung ke sentra kerajinan.

‎"Dulu penjualan offline sangat ramai. Bus-bus pariwisata berderet mulai Kludan sampai Tanggulangin. Sekarang kondisinya jauh berbeda. Toko-toko sepi pembeli. Kalau ini terus dibiarkan, Intako bisa benar-benar tenggelam. Silakan lihat sendiri, sudah banyak toko yang gulung tikar dan beralih menjadi rumah makan maupun showroom kendaraan," katanya.

‎Di tengah lesunya usaha, Koperasi Intako juga masih dibayangi kewajiban membayar pinjaman bank sebesar Rp1 miliar dengan jaminan sertifikat aset senilai sekitar Rp4 miliar. Kondisi itu semakin berat karena omzet usaha belum mampu menutup kewajiban cicilan.

‎"Hingga sekarang kami tetap berusaha memenuhi kewajiban. Namun omzet yang kami peroleh belum cukup untuk membayar kredit. Akibatnya kami dikenai penalti dan aset koperasi terancam dilelang bank," ungkap Zainul.

‎Ia menjelaskan, kemunduran Intako merupakan akumulasi berbagai persoalan yang terjadi selama bertahun-tahun. Pukulan pertama datang saat bencana Lumpur Lapindo memutus akses menuju kawasan Tanggulangin sehingga kunjungan wisatawan menurun drastis. Kondisi itu kemudian diperparah oleh perubahan pola belanja masyarakat akibat perkembangan teknologi digital, sebelum akhirnya pandemi Covid-19 semakin menekan keberlangsungan usaha para pengrajin.

‎"Setelah Lumpur Lapindo memengaruhi akses ke Tanggulangin, jumlah wisatawan turun tajam. Kemudian perkembangan teknologi digital mengubah pola belanja masyarakat. Setelah itu datang pandemi Covid-19 yang membuat kondisi semakin sulit," ujarnya.

‎Meski demikian, para pengrajin masih berupaya mempertahankan usaha dengan menerima pesanan dari sejumlah perusahaan, instansi, maupun pelanggan melalui marketplace. Namun, nilai transaksi yang diperoleh belum mampu mengembalikan kejayaan Intako seperti sebelumnya.

‎"Kami masih mendapat order dan ada pelanggan yang melakukan pembelian ulang melalui marketplace. Tetapi nilainya belum besar dan masih jauh dibanding saat Tanggulangin menjadi tujuan utama wisata belanja," tutur Zainul.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....