Jawa Timur Deflasi 0,26 Persen pada Juli 2026, Dipicu Turunnya Harga Hortikultura

  • 03 Agt 2026 16:07 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,26 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya deflasi.

Plh Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan deflasi Juli 2026 dipengaruhi melimpahnya pasokan komoditas hortikultura selama musim panen. Kondisi tersebut menyebabkan harga bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan tomat mengalami penurunan.

"Pada Juli 2026, Provinsi Jawa Timur mengalami deflasi month-to-month sebesar 0,26 persen, inflasi tahun kalender sebesar 1,48 persen, dan inflasi year-on-year sebesar 2,87 persen," kata Herum, Senin, 3 Agustus 2026.

BPS mencatat bawang merah menjadi komoditas penyumbang deflasi terbesar dengan penurunan harga 25,43 persen dan memberikan andil negatif 0,13 persen. Selanjutnya emas perhiasan mengalami deflasi 4,96 persen dengan andil negatif 0,11 persen.

Komoditas lain yang turut menahan laju inflasi adalah cabai rawit yang turun 19,43 persen dengan andil negatif 0,08 persen, telur ayam ras turun 5,69 persen dengan andil negatif 0,05 persen, serta cabai merah turun 28,05 persen dengan andil negatif 0,05 persen.

"Selain itu, tarif angkutan udara mengalami deflasi 2,12 persen dengan andil negatif 0,04 persen. Penurunan harga juga terjadi pada tomat sebesar 15,72 persen, daging ayam ras 1,15 persen, dan jagung manis 8 persen." katanya.

Herum menjelaskan penyumbang utama deflasi secara bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Komoditas utama penyumbang deflasi meliputi bawang merah, emas perhiasan, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah.

Penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya deflasi (Foto: BPS Jatim)

Di sisi lain, sejumlah komoditas masih mengalami kenaikan harga sehingga menahan laju deflasi. Komoditas tersebut antara lain bensin yang mengalami inflasi 1,51 persen dengan andil 0,07 persen, beras 0,63 persen dengan andil 0,03 persen, bawang putih 4,12 persen, daging sapi 1,72 persen, laptop atau notebook 2,25 persen, biaya Sekolah Dasar 1,05 persen, serta bimbingan belajar 2,15 persen.

Menurut Herum, kenaikan harga beras, bawang putih, dan daging sapi dipengaruhi keterbatasan pasokan, penyesuaian harga di tingkat produsen maupun distributor, serta meningkatnya biaya distribusi. Sementara itu, penyesuaian tarif pendidikan merupakan fenomena yang lazim terjadi saat memasuki tahun ajaran baru.

BPS juga mencatat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) hingga Juli 2026 mencapai 1,48 persen. Penyumbang utamanya berasal dari kelompok transportasi dengan komoditas pendorong berupa angkutan udara dan bensin.

Sementara inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Juli 2026 tercatat sebesar 2,87 persen. Penyumbang terbesar berasal dari kelompok transportasi, kelompok makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Komoditas yang menjadi pendorong utama inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bensin, beras, dan minyak goreng. Meski demikian, penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura mampu menahan laju inflasi pada Juli 2026.

Herum menambahkan, berdasarkan pola historis, kelompok pendidikan masih berpotensi memberikan andil terhadap inflasi pada Agustus 2026 seiring berlangsungnya penyesuaian biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....