APBN Dukung Ketahanan Pangan Jatim Rp307,86 Miliar, NTP Mei 2026 Rekor Tertinggi
- 22 Jun 2026 16:28 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Kementerian Keuangan mencatat realisasi dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk ketahanan pangan di Jawa Timur mencapai Rp.307,86 miliar hingga 31 Mei 2026. Angka tersebut tumbuh 51,17 persen dibanding tahun sebelumnya dan membalik tren kontraksi tajam tahun lalu sebesar 61,59 persen.
Akselerasi ini didorong meningkatnya pagu anggaran menjadi Rp.2,87 triliun, naik signifikan dari 878,71 miliar Rupiah pada 2025. "Peningkatan pagu mencerminkan penguatan komitmen pemerintah terhadap ketahanan pangan nasional. Jawa Timur berada di posisi produsen padi terbesar nasional dengan produksi 7,71 juta ton gabah kering giling." kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur, Saiful Islam, Senin, 22 Juni 2026.
Output pemanfaatan anggaran ketahanan pangan tahun anggaran 2026 antara lain prasarana jaringan sumber daya air sepanjang 1.143 kilometer, pengembangan 2 bendungan, dan fasilitasi pupuk serta pestisida untuk 985.568 petani. Selain itu, pengembangan kawasan tanaman semusim 56.050 hektar dan kawasan aneka palma 5.050 hektar.
Di sektor perikanan, realisasi mencakup bantuan hewan ikan air payau 5.500.000 benih, bantuan tanaman rumput laut 7.571 benih, serta bantuan peralatan budidaya ikan air payau 30 unit. "Pelatihan bidang pertanian dan perikanan menjangkau 1.260 orang dan peningkatan produksi ternak 2.400 ekor." ujarnya.
Resiliensi ekonomi Jawa Timur Mei 2026 ditopang inflasi yang terkendali 0,28 persen dibanding bulan sebelumnya dan 3,49 persen dibanding tahun sebelumnya. Ketersediaan pasokan terjaga, dengan deflasi pada komoditas utama bertindak sebagai penyangga efektif untuk daya beli rumah tangga.
Nilai Tukar Petani Mei 2026 tercatat 120,33, rekor tertinggi dalam 3 tahun dan tumbuh 3,32 persen dibanding bulan sebelumnya. Capaian ini menjadi performa terkuat se-Pulau Jawa, ditopang kuat oleh subsektor hortikultura dan membuktikan ekonomi pedesaan solid.
Dari sisi industrialisasi, impor Jawa Timur mencapai USD10,39 miliar dengan 79,40 persen berupa bahan baku. Impor tersebut menjadi mesin pencetak rekor ekspor industri pengolahan sebesar USD8,52 miliar atau 94,32 persen dari total ekspor. Neraca perdagangan kumulatif Januari hingga April 2026 defisit USD1,87 miliar dolar Amerika Serikat.
"Kepercayaan investasi triwulan I 2026 terealisasi Rp498,79 triliun, tumbuh 7,22 persen dibanding tahun sebelumnya. Dominasi absolut sektor industri logam dasar Rp.69,3 triliun atau 13,9 persen menegaskan posisi Jawa Timur sebagai magnet utama industrialisasi strategis." katanya.
Defisit perdagangan yang dipicu impor bahan baku industri, dipadukan lonjakan investasi sektor logam dasar, membuktikan Jawa Timur memperkuat kapasitas pabrikasi secara masif. Sementara itu, inflasi terkendali dan rekor Nilai Tukar Petani memastikan transisi industri berjalan aman tanpa mengorbankan kesejahteraan petani.
Dari sisi penerimaan, Penerimaan Negara Bukan Pajak Jawa Timur hingga 31 Mei 2026 mencapai Rp. 3,74 triliun atau 59,99 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Rp.6,24 triliun, tumbuh 9,55 persen dibanding tahun sebelumnya.
Penerimaan Negara Bukan Pajak Kementerian Lembaga tumbuh 16,58 persen dibanding tahun sebelumnya, terutama dari penerimaan kembali belanja modal tahun anggaran yang lalu serta pelayanan pertanahan dan Surat Tanda Nomor Kendaraan. Pendapatan Badan Layanan Umum Rp1,70 triliun atau 46,38 persen dari target, tumbuh 2,19 persen.
Kenaikan Pendapatan Badan Layanan Umum didorong pendapatan jasa pelayanan pendidikan naik 10,4 persen dibanding tahun sebelumnya dan jasa pelayanan kesehatan Kementerian Kesehatan naik 8,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Penerimaan Negara Bukan Pajak Lainnya mencapai Rp2,04 triliun atau 79,52 persen target.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....